Tanda Infeksi Pada Sklera Mata

Selasa, 16 November 2021 53

Sklera adalah bagian berwarna putih dan keras pada bola mata.  Sklera yang terbentuk dari jaringan ikat ini berfungsi untuk mempertahankan bentuk bola mata dan melindungi bagian penting di dalam mata, seperti retina dan lensa mata.  Sklera ditutupi oleh konjungtiva, yakni selaput lendir berwarna bening yang berfungsi untuk melumasi mata.

Skleritis adalah peradangan yang terjadi pada sklera atau bagian yang berwarna putih pada bola mata. Bagian mana ini tersusun dari serabut jaringan ikat dan membentang dari tepi kornea hingga ke saraf optik yang terletak di belakang mata. Maka itu, penyakit ini tidak bisa dianggap remeh. Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, skleritis tidak hanya merusak sklera tapi juga menyebabkan kerusakan mata yang parah hingga berujung kebutaan.


Penyebab pasti kondisi ini masih belum diketahui, namun skleritis sering kali dikaitkan dengan penyakit autoimun, seperti lupus dan rheumatoid arthritis. Pada beberapa kasus, radang sklera juga mungkin disebabkan oleh infeksi dan kelainan pada jaringan ikat. Scleritis juga bisa disebabkan karena adanya trauma pada mata. Pada kasus yang jarang, penyakit ini juga bisa disebabkan karena infeksi oleh jamur atau parasit

Gejala utama yang sering kali muncul pada seseorang dengan scleritis adalah kemerahan. Selain itu kerap timbul rasa nyeri. Karakteristik nyeri yang dirasakan adalah nyeri hebat yang bisa menjalar hingga dahi, alis, rahang, atau sinus; dapat membuat terbangun saat malam hari; nyeri bertambah hebat pada sentuhan; hanya menghilang sementara jika diberikan obat anti-nyeri.

Tanda lain yang biasanya dirasakan adalah keluar air mata, fotofobia (silau saat melihat cahaya), gangguan penglihatan seperti penglihatan buram. Scleritis dapat disertai beberapa komplikasi, seperti retinal detachment (ablasi retina), keratitis, iritis, uveitis, katarak, kelainan pada fundus (disk edema, macular edema, masa subretina)  atau glaukoma sudut tertutup.

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena penyakit mata ini, antara lain: memiliki infeksi mata, pernah mengalami cedera mata, adanya riwayat operasi mata. Selain itu, faktor usia dan jenis kelamin juga turut mempengaruhi risiko skleritis. Seseorang dengan rentang usia 40-50 tahun dan berjenis kelamin perempuan memiliki tingkat risiko lebih tinggi menderita skleritis.


Penanganan dan perawatan tepat berdasarkan tingkat keparahan skleritis sesuai anjuran dokter sangat diperlukan untuk mengurangi nyeri dan radang pada sklera. Jenis pengobatan yang diberikan dapat bervariasi, tergantung dari jenis scleritis yang diderita. Sering kali, dibutuhkan terapi sistemik untuk membantu mengatasi keluhan. Terapi sistemik yang mungkin dipertimbangkan antara lain kortikosteroid, NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs), atau obat-obatan imunomodulatori. Jika disebabkan infeksi bakteri, maka dapat diresepkan antibiotik.


Narasumber: dr Aninda Dian Anggraeni (Dokter Umum RS "JIH" Jogja)