Rekomendasi Terapi Morning Sickness yang Aman bagi Ibu Hamil

Selasa, 05 Januari 2021 87

apt. Niken Laras Sigalih, S.Farm

Apoteker Rumah Sakit “JIH”

 

            Morning sickness merupakan sebutan lazim yang menggambarkan gejala mual dan muntah di awal kehamilan, dapat terjadi sewaktu-waktu ataupun sepanjang hari. Gejala mual dan muntah tersebut dialami sekitar 70-80% wanita pada 6-12 minggu kehamilan. Umumnya, gejala akan mereda pada 20 minggu kehamilan. Faktor hormonal dan tingginya beta-Human Chorionic Gonadotropin (b-HCG) disinyalir sebagai salah satu faktor pencetus gejala morning sickness dengan puncak pada 9 minggu kehamilan. Apabila gejala muncul pada 16 minggu kehamilan atau lebih, maka dapat disebabkan oleh faktor lain, yang sebaiknya diperiksakan lebih lanjut.

US Food and Drug Administration (FDA) mengelompokkan obat berdasarkan keamanannya selama kehamilan dalam 5 kategori : A, B, C, D, dan X. Kategori A dan B relatif aman digunakan untuk ibu hamil. Kategori C perlu dipertimbangkan manfaat dan risikonya, sementara  kategori D dan X tidak direkomendasikan karena berpotensi teratogenik yang menyebabkan perkembangan abnormal pada janin. Dengan demikian, pastikan keamanan obat pada ibu hamil sebelum konsumsi obat apapun.

Rekomendasi terapi morning sickness terdiri dari beberapa lini terapi. Pada lini pertama, vitamin B6 (pyridoxine) 25 mg dinilai sebagai terapi yang efektif dalam mengatasi morning sickness ringan hingga sedang dengan potensi efek samping yang paling minimum. Untuk optimalisasi terapi, umumnya vitamin B6 dikombinasikan dengan doxylamine succinate yang merupakan agen anti histamin atau yang lazimnya dikenal sebagai anti alergi.

Ketika terapi lini pertama tidak cukup adekuat dan tidak terdapat gejala dehidrasi, maka dapat diberikan terapi lini kedua berupa agen anti histamin seperti difenhidramin, dimenhidrinat, cyclizin, dll atau agen antagonis dopamine seperti metoclopramid. Sementara itu, untuk lini terakhir, terdapat ondansetron dan kortikosteroid yang dapat digunakan pada kasus berat dan harus dalam pengawasan tenaga kesehatan. Dosis dan durasi terapi dapat bervariasi tergantung pada keparahan gejala dan kondisi ibu hamil.

Selain terapi menggunakan obat, terapi non-farmakologi dapat membantu dan memperingan gejala morning sickness, antara lain dengan cara mengganti cairan tubuh yang hilang menggunakan air hangat atau larutan elektrolit (oralit), menghindari stress, dan mengonsumsi jahe. Jahe terbukti mampu meminimalisir morning sickness secara efektif. Sementara itu, suplementasi vitamin sebelum kehamilan dan diit bebas lemak dapat menjadi langkah preventif yang bisa diupayakan.

Ibu hamil perlu waspada apabila gejala morning sickness tidak kunjung membaik dalam 3 minggu. Terutama jika disertai gejala dehidrasi, penurunan berat badan yang signifikan, ditemukan keton pada urin, dan ketidakseimbangan elektrolit. Pada tahap tersebut, ibu hamil direkomendasikan untuk menemui dokter dan tenaga kesehatan untuk mendapatkan terapi lebih lanjut. Jangan lupa, Tanya obat Tanya Apoteker!