Pentingnya Sirkulasi Udara Dalam Mencegah Covid-19

Kamis, 30 Juli 2020 45

Sriyanto, S.Kep., Ners

Infection Prevention and Control Nurse (IPCN)

Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit “JIH’” Yogyakarta


Di Indonesia, di akhir bulan Juli kasus konfirmasi COVID-19, penambahannya mencapai diatas 1000 kasus perhari. Angka tersebut termasuk tinggi dibandingkan Negara lain. Di Yogyakarta, sampai dengan 22 Juli 2020 kasus korfirmasi mencapai 486 kejadian. Pemerintah melalui berbagai media tidak henti-hentinya menginstruksikan kepada masyarakat agar tetap konsisten melaksanakan protocol kesehatan sebagai upaya pencegahan.

Protokol kesehatan tersebut diantaranya: rajin melakukan kebersihan tangan, mengenakan masker, menjaga jarak, menjaga stamina tubuh agar tetap fit dan sebagainya. Saat ini, tidak bisa dipungkiri, ada masyarakat yang tetap patuh melaksanakan protocol kesehatan, ada juga yang sudah mulai terkesan mengabaikan protocol kesehatan tersebut.

Beberapa berita beredar, penyebaran COVID-19 sudah bisa melalui udara. Menurut WHO (April, 2020) penularan melalui udara terjadi pada keadaan atau tindakan yang memicu aerosolisasi dari penderita yang terkonfirmasi. Hingga saat ini masih diperlukan penelitian yang berkualitas untuk menetapkan penularan melalui udara selain pada kondisi tersebut. Dalam pemahaman awam, penyebaran melalui udara bisa menyebabkan semua orang akan terpapar COVID-19, karena semua orang pasti bernafas menggunakan udara. Secara otomatis udara yang kita hirup akan disaring oleh bulu hidung. Selain itu untuk mencegah penularan melalui udara secara logika diperlukan pemakaian masker: masker kain, surgical mask dan respirator mask agar virus yang berada di udara tidak terhirup kedalam saluran pernafasan.

Secara alami, upaya lain dengan memberikan sirkulasi udara bersih yang cukup di dalam ruangan atau rumah. Hal ini bertujuan mengencerkan kepekatan (visikositas) virus di udara yang berada diruangan tertutup, sehingga tingkat keganasan (virulensi) berkurang dan tidak mampu menginfeksi. Udara yang terpapar dari dalam ruangan akan keluar, dengan harapan virus akan ternetralisir oleh cahaya matahari di luar ruangan.

Pada ruangan yang tertutup dan berpendingin udara dengan sirkulasi udara yang kurang, sebaiknya dibuatkan ventilasi mekanik yang memungkinkan pertukaran udara sesuai standar. Seperti halnya di kamar operasi rumah sakit,sesuai standar harus menggunakan penyaring udara High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter. Alat ini mampu mengatur pertukaran udara segar sekaligus menyaringnya. Alat pemurni udara (air purifier) yang lain juga bisa dipergunakan. Secara umum ventilasi alami lebih ekonomis dibanding ventilasi mekanik. Hal lain yang bisa dikerjakan bila bekerja di ruangan tertutup adalah menyempat kan menghirup udara bersih dan segar.

Mari tetap meningkatkan, mempertahankan kepatuhan, saling mengingatkan dalam melaksanakan protocol kesehatan dan berdoa kepada Allah agar terhindar dari Covid-19 untuk Indonesia sehat.