Pentingnya “Bermain Pura-pura” dengan Anak

Senin, 15 Februari 2021 73

Emalia Rizqi Anggita S.Tr. Kes

Terapis Wicara

Tahukah Anda bahwa bermain pura-pura menjadi hal penting untuk perkembangan anak? Kita tau bahwa anak-anak belajar melalui bermain. Anak bermain pura-pura dengan menganggap mereka sebagai orang dewasa dengan pekerjaan dan tugas yang harus dilakukan misalnya mereka berdandan seperti ibu, mengajar di kelas yang penuh dengan boneka binatang atau bisa dengan memanfaatkan suatu benda untuk mewakili benda yang lain misalnya meletakkan balok di telinganya sebagai ponsel,menggendong boneka sebagai bayi.

Bermain pura-pura berkembang sejak tahap balita. Anak-anak tidak hanya menemukan kreativitas ketika mereka berimajinasi namun mereka juga belajar banyak keterampilan penting.

Keterampilan sosial-emosional. Saat anak-anak bermain bersama, mereka berlatih berbagi, mengambil giliran, dan bernegosiasi. Selain itu juga meningkatkan kemampuan anak untuk berempati, karena mereka harus mempertimbangkan cara untuk bertindak, berpikir, dan merasakan ketika memerankan pengalaman tertentu.

Keterampilan bahasa dan kosakata.  Anak-anak memiliki berbagai pengalaman untuk berbagi satu sama lain. Ketika anak berbicara dan bermain bersama, mereka dapat mempelajari kosa kata baru dan meningkatkan keterampilan bahasa anak saat berkomunikasi dengan orang lain secara jelas dan efektif misalnya saat mereka menjelaskan sebuah cerita yang mana membutuhkan alur logis dan urutan kejadian.

Keterampilan memecahkan masalah. Anak-anak dapat membuat rencana dan memecahkan masalah saat mereka bermain. Mereka harus menentukan siapa yang akan bermain peran, di mana kejadian akan berlangsung, dan peristiwa apa yang akan terjadi. Bermain pura-pura juga mengembangkan keterampilan berpikir abstrak, yang merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi, misalnya, menggunakan benda tertentu, seperti sendok sebagai symbol untuk sesuatu yang lain, seperti mikrofon.

Keterampilan disiplin. Selama bermain anak-anak mempraktikkan aturan tertentu. Dimana aturan tersebut mengharuskan anak untuk mematuhinya alurnya. Misalnya ketika anak bermain pura-pura bersama sebagai polisi dan penjahat, dimana ketika si penjahat tertangkap dan tertembak harus berpura tergeletak dan menyerah.