Pencegahan Progresi Miopia pada Anak di Masa Pandemik COVID-19

Kamis, 08 Oktober 2020 90

Pencegahan Progresi Miopia pada Anak di Masa Pandemik COVID-19

Oleh: dr. Karina Satyani Pratiwi Sp.M

Dokter Spesialis Mata Rumah sakit “JIH”

Senin, Selasa dan Kamis 14.30 sd 17.00

Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO secara resmi mengumumkan COVID-19 sebagai suatu pandemik. Peningkatan jumlah penderita yang terinfeksi dan kematian yang diakibatkan oleh COVID-19 menjadi alasan pemerintah memberlakukan pembatasan social berskala besar (PSBB) sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran infeksi corona virus.

Salah satu dampak dari PSBB ini adalah ditutupnya sekolah secara konvensional dan disertai dengan pengalihan metode pembelajaran secara daring. Anak-anak harus berhadapan dengan layar digital dan lebih banyak berkegiatan di dalam ruangan terkait dengan terbatasnya kegiatan di luar ruang. Walaupun penutupan sekolah bersifat sementara, ada kekhawatiran bahwa kebiasaan ini akan berlanjut bahkan setelah pandemic berakhir. Keadaan ini akan memperburuk status myopia dalam jangka panjang.

Apa yang disebut dengan miopia?

Miopia, yang lebih banyak dikenal dengan mata minus, merupakansuatu kondisi dimana focus cahaya jatuh di depan retina. Penyebab terjadinya myopia adalah bola mata yang panjang (>24 mm) dan pengaturan fokus (akomodasi) yang berlebihan. Penderita myopia akan melihat kurang jelas untuk benda yang berada di jarak jauh dan menjadi lebih jelas ketika mendekat. Angka kejadian myopia cukup tinggi terutama pada ras Asia, yang berkisar antara 2.5 – 53,7% di negara-negara Asia. Penggunaan kacamata minus dapat membantu penderita untuk melihat seperti mata normal.

Apa saja yang dapat mengakibatkan miopia dan memperburuk progresi miopia?

Banyak faktor yang terlibat dalam terjadinya miopia, termasuk faktor keturunan dan faktor lingkungan. Anak dengan orang tua myopia akan memiliki kecenderungan untuk mengalami myopia dengan onset lebih dini. Bila dibandingkan dengan anak tanpa riwayat orang tua miopia, risiko untuk mengalami myopia lebih dini sebesar 1,42 kali apabila salah satu orang tua myopia, 2,7 kali bila kedua orang tua myopia, dan 3,39 kali bila kedua orang tua myopia sejak kecil.

Kegiatan jarak dekat dengan durasi yang lama dapat mempercepat terjadinya miopia, terutama kegiatan membaca. Sebuah studi secara spesifik menyebutkan perkembangan myopia terjadi lebih cepat pada anak dengan mata dengan minus tinggi, kegiatan membaca yang dilakukan lebih dari 30 menit tanpa istirahat, dan membaca dengan jarak yang dekat (< 30 cm). Kegiatan seperti menonton TV, bermain game di komputer, dan belajar juga dapat menyebabkan perkembangan miopia. Namun, kondisi ini lebih memberikan dampak pada anak-anak yang sudah menderita myopia sebelumnya.

Rendahnya aktivitas di luar ruangan juga dapat meningkatkan terjadinya miopia. Penambahan aktivitas di luar ruangan selama 40 menit sehari menurunkan risiko terjadinya myopia sebanyak 23%. Akumulasi kegiatan di luar ruangan selama 11 jam dalam seminggu dapat menurunkan perkembangan myopia sampai 54% baik pada mata normal maupun mata miopia.

Apakah myopia berbahaya bagi kesehatan mata?

Miopia tinggi atau minus lebih dari 5-6 dioptri dapat mengakibatkan komplikasi lebih lanjut seperti glaukoma, katarak, perdarahan retina, dan lepasnya lapisan retina. Kualitas hidup seorang penderita myopia dengan komplikasi akan menjadi buruk terkait dengan terbatasnya kemandirian dan penglihatan.

 

Apa yang bisa kita lakukan di masa pembelajaran daring?

Di masa pandemic kini, penggunaan layar pada proses pembelajaran beralih fungsi menjadi suatu kebutuhan utama. Pola belajar ini mungkinakan dipertahankan bahkan setelah pandemic berakhir. Untuk mengurangi beban miopia, butuh kerjasama dari banyak pihak terkait. Pertama, orang tua perlu mewaspadai bahwa tingginya aktivitas dalam ruangan dan rendahnya aktivitas luar ruangan akan mempengaruhi perkembangan myopia jangka panjang. Oleh karena itu, orang tua perlu membiasakan anak untuk memiliki pola hidup mata sehat, seperti memperbanyak frekuensi rehat saat melakukan kegiatan jarak dekat dan mengurangi penggunaan layar untuk kegiatan yang tidak perlu. Kedua, perlu dilakukan koordinasi antara pemerintah, dokter, dan sekolah untuk penyesuaian kurikulum pembelajaran dari rumah, yang tidak hanya meliputi aktivitas membaca dan belajar saja, melainkan melibatkan anak dalam kegiatan kreatif lainnya. Ketiga, kegiatan luar ruangan selama 2-3 jam dalam sehari sebaiknya tetap dilakukan dengan tetap mengutamakan prinsip pencegahan penyebaran COVID-19 seperti menjaga jarak dan menggunakan masker.

Rekomendasi waktu penggunaan layar harian berdasarkan usia oleh American Academy of Pediatrics (AAP)

18- 24 bulan

< 1 jam

3 – 5 tahun

1 jam

6 - 10 tahun

1 – 1,5 jam

11 – 13 tahun

2 jam

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi sangat membantu proses pembelajaran di tengah masa pandemic ini. Orang tua diharapkan untuk menciptakan hubungan yang sehat antara anak dengan perangkat digital tanpa mengurangi fungsi dari proses pembelajaran secara daring. Yang pertama dapat dilakukanya itu dengan mengatur waktu penggunaan perangkat digital. Orang tua dapat membatasi waktu penggunaan perangkat digital perhari maupun persesi. Yang kedua, anak-anak sebaiknya selalu dalam pengawasaan orang tua sehingga penggunaan layar benar-benar terbatas untuk proses pembelajaran. Hal ini akan meningkatkan efektivitas waktu penggunaan layar dan menciptakan suasana belajar yang kondusif. Ketiga, orangtua dapat membuat jadwal untuk menetapkan kapan dan dimana perangkat digital akan digunakan. Hal ini juga bermanfaat untuk penerapan kedisiplinan yang biasa anak dapat dari jadwal sekolah. Aplikasi yang dapat diunduh untuk mempermudah pengaturan waktu penggunaan layar antara lain Plano, Zift, dan Screen Time. Terakhir, orangtua dapat menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam penggunaan perangkat digital. Dalam hal ini, orangtua sebaiknya ikut membatasi penggunaan perangkat digital dan menggunakan waktunya lebih banyak untuk aktivitas dalam ruangan seperti bermain musik, membuat kerajinan tangan, dan melibatkan anak dalam pekerjaan rumah sehari-hari.

Kesimpulan

Metode pembelajaran dari sekolah secara konvensional sementara dihentikan sebagai salah satu cara memutus rantai penyebaran COVID-19. Sebagai proses kelanjutan pembelajaran, digunakan metode pembelajaran daring dimana anak akan lebih kerap terpapar dengan layar digital. Hal ini dapat berisiko untuk meningkatkan munculnya miopia. Untuk itu, diperlukan kerjasama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah terutama dalam pembuatan kebijakan terkait pendidikan anak dengan mengutamakan kesehatan secara umum dan meminimalisir terjadinya myopia dalam jangka panjang.