Mengenali Perbedaan Expired Date VS Beyond Use Date Obat

Rabu, 15 Januari 2020 4170

Obat menurut Food and Drugs Administration (FDA) adalah senyawa yang terdaftar dalam formularium atau farmakope resmi yang memiliki fungsi untuk mendiagnosa, mengobati, mengurangi keparahan, menyembuhkan, ataupun mencegah suatu penyakit. Obat yang beredar di pasaran, baik yang diresepkan maupun yang dibeli bebas pasti memiliki masa simpan tertentu yang menjamin kualitas obat tersebut. Sering kali masyarakat menanyakan, “Obat ini setelah dibuka dapat disimpan berapa lama? Kadaluarsa obatnya sampai tanggal berapa?”.Hal inilah yang menjadi perhatian penting bagi tenaga kesehatan, termasuk diantaranya apoteker, untuk mengedukasi masyarakat terkait keamanan dan mutu obat setelah diserahkan kepada pasien.

            Bagi masyarakat, sudah tidak asing tentunya ketika mendengar istilah Expired Date (ED). Namun, terdapat istilah lain yang dikenal dengan Beyond Use Date (BUD) yang mungkin bagi sebagian masyarakat masih terasa asing. Kedua istilah tersebut mengacu pada waktu dimana suatu obat dapat dipastikan keamanan serta mutunya dan masih baik untuk digunakan oleh pasien. Namun, terdapa tperbedaan mendasar bagi kedua istilah tersebut. FDA menjelaskan bahwa ED merupakan masa atau waktu dimana suatu industry farmasi atau produsen dapat menjamin mutu, potensi, serta keamanan suatu obat masih dalam keadaan baik. Industri selalu menempatkan label ED pada setiap kemasan produknya. Penentuan ED tentunya dilakukan dalam kondisi tertentu sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Di sisi lain, United States Pharmacopeia (USP) menyatakan bahwa BUD merupakan tanggal dimana sebuah sediaan farmasi yang telah diracik ataupun digunakan tidak disarankan untuk digunakan kembali oleh pasien. Pada beberapa kondisi, BUD akan memiliki masa yang lebih pendek dibandingkan dengan ED sediaan tersebut. Hal ini dapat terjadi karena mengalami perubahan kondisi penyimpanan sediaan meliputi suhu, tempat penyimpanan, ataupun kelembaban dari penyimpanan sediaan berubah setelah digunakan pasien.

Beberapa contoh kegiatan yang dapat mempengaruhi BUD juga diantaranya adalah proses penambahan air pada suatu sediaan, misalnya pengenceran sirup kering, peracikan tablet menjadi puyer atau kapsul, peracikan sediaan semi padat, maupun dibukanya produk dari wadah aslinya. Dari artikel diatas dapat disimpulkan bahwa hampir sebagian besar obat tentu memiliki masa simpan yang tidak sama lagi seperti ED nya ketika sudah digunakan oleh pasien, atau dengan kata lain masa simpannya menjadi BUD. Oleh karena itu, selalu bacadan perhatikan kemasan setiap obat untuk mengetahui kondisi penyimpanan yang tepat sehingga mutu dan kualitas obat dapat tetap terjamin. Beberapa industry juga telah mencamtumkan peringatan terkait seberapa lama obat tersebut dapat disimpan setelah digunakan. Tak lupa, konsultasikan dengan Apoteker anda sebelum menggunakan obat-obatan anda. Tanya Obat? Tanya Apoteker!