Lindungi Anak Dari Bahaya Covid 19

Senin, 15 Juni 2020 107

Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus corona baru karena baru ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. Nama lain Covid 19 adalah Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Kemunculan Covid 19 telah menyebabkan Pandemic Global dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Jumlah kasus positif dan kematian akibat infeksi virus corona baru atau Covid-19 setiap harinya terus mengalami peningkatan. Sejauh ini, virus corona memang lebih sering menyebabkan gejala yang berat, bahkan kematian, pada orang lanjut usia (lansia) daripada orang dewasa atau anak-anak. Terlebih jika mereka memiliki riwayat penyakit lain, seperti diabetes, penyakit jantung, asma, kanker dan lain-lain

Covid-19 sebenarnya dapat mengenai siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin maupun social ekonomi. Di Indonesia, berdasarkan data www.covid19.go.id per 13 mei 2020, terdapat 15.438 kasus terkonfirmasi Covid-19 diantaranya 1.4% usia balita. Dari 11.123 pasien dalam perawatan terdapat 1.6 % balita dirawat/diisolasi, dari 3.287 yang sembuh terdapat 1,2 % usia balita dan dari 1.028 meninggal terdapat 0,7 % balita meninggal.

Data ini menunjukkan bahwa angka kesakitan dan kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia termasuk tinggi, dan membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap Covid-19 atau hanya akan menderita sakit ringan saja.

Tanda dan gejala Covid-19 pada anak sulit dibedakan dari penyakit saluran pernapasan akibat penyebab lainnya karena sangat bervariasi, dari yang tanpa gejala sampai sesak napas berat. Gejala Covid 19 yang umum meliputi demam, kelemahan, nyeri kepala, nyeri otot. Gejala pada saluran pernapasan meliputi batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat dan sesak napas. Covid 19 juga bisa menimbulkan gejala pada saluran pencernaan seperti diare, mual dan muntah. Apabila gejala yang muncul berupa batuk pilek ringan seperti penyakit common cold atau selesma, biasanya tidak berbahaya dan akan sembuh sendiri.

Penyakit saluran pernapasan menjadi berbahaya apabila menyerang paru-paru, yaitu menjadi radang paru atau pneumonia. Gejala pneumonia adalah demam, batuk, dan kesulitan bernapas yang ditandai dengan napas cepat dan sesak napas. Napas dikatakan cepat apabila pada usia 0-<2 bulan 60 kali/menit atau lebih, pada usia 2 bulan-<12 bulan 50 kali/menit atau lebih, dan usia 1-<5 tahun 40 kali/menit atau lebih.

Saat menghitung napas anak, perhatikan pula adakah tanda sesak seperti tarikan dinding dada (chest indrawing). Pada pneumonia berat anak mengalami distress pernapasan yang berat, kadar oksigen menurun (sianosis), tidak mampu minum atau menyusu, penurunan kesadaran dan kejang. Distres pernapasan yang berat ini merupakan penyebab utama kematian pada pasien Covid-19.

Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis Covid -19 yaitu pemeriksaan darah lengkap, rontgen dada atau CT scan dada, pemeriksaan swab tenggorokan untuk memastikan ada tidaknya virus SARS-CoV-2.

Sampai saat ini belum tersedia rekomendasi tata laksana khusus pasien Covid-19, termasuk antivirus atau vaksin. Tata laksana yang dapat dilakukan adalah terapis imtomatik atau mengatasi gejala yang timbul, pemberian oksigen dan memberikan alat bantu napas pada pasien yang mengalami gagal napas.

Upaya yang paling penting saat ini adalah melakukan tindakan pencegahan serta memutus rantai penularan Covid-19 dengan melakukan pembatasan social dengancara yang benar. Mencegah penularan pada kelompok usia balita, selain mencegah risiko kematian pada bayi dan anak balita juga mencegah risiko penularan kepada pengasuh atau orang disekitarnya. Hindari berkunjung, terlebih membawa anak, kekeramaian atau ketempat hiburan, mal, pasar, bioskop, kendaraan umum padat penumpang, maupun sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler tempat berkumpulnya orang ramai. Hindari pula melakukan perjalanan keluar kota, terutama dalam rangka mengunjungi kakek nenek, yang merupakan kelompok risiko tinggi tertular dan sakit berat akibat Covid-19. Jika terpaksa keluar rumah, pakai alat pelindung diri, tetap perhatikan untuk jaga jarak, menghindari kerumunan dan segera mandi, cuci rambut, mengganti baju sesampainya di rumah. Bagi anak umur >2 tahun, memakai masker saat memerlukan keluar rumah untuk mencegah penularan melalui batuk dan bersin. Anak umur < 2 tahun tidak dianjurkan menggunakan masker, berhati-hati memilih alat pelindung diri yang tidak menimbulkan risiko tercekik/tersedak/kesulitan napas.

Ajari anak cara cuci tangan, etika batuk, bersin, dan berludah yang benar, serta menjaga jarak 1-2 meter satu sama lain. Cuci tangan sebaiknya  dilakukan sesering mungkin. Anak yang masih dalam pengasuhan dekat, seperti bayi dan balita, sebaiknya diasuh oleh orang dewasa yang sehat.

Suplemen berupa vitamin ditujukan untuk mengatasi kekurangan mikro nutrient dalam asupan makanan. Kekebalan terhadap penularan berbagai penyakit infeksi diperoleh dari nutrisi lengkap seimbang, istirahat yang cukup, aktivitas fisik sesuai usia, penerapan perilaku hidup bersih sehat, serta usaha pencegahan penularan infeksi.