ISPA VS COVID

Senin, 28 September 2020 236

Oleh: dr. Dwi Erike Sp.THT-KL

Dokter Spesialis THT Rumah Sakit “JIH”

ISPA atau Infeksi Saluran Nafas Atas adalah jenis infeksi yang disertai peradangan di daerah hidung, mulut dan tenggorok. Infeksi jenis ini biasanya disebabkan virus seperti Rhinovirus dan bakteri. Gejala dari ISPA dapat berupa pilek, nyeri tenggorok, batuk, demam, pusing, dan badan terasa nyeri dan lemas. Sebagian besar ISPA dapat sembuh sendiri dalam 7-10 hari, tanpa harus mengkonsumsi obat yang spesifik. ISPA dapat menular melalui droplet yang dikeluarkan saat batuk dan bersin, bersentuhan dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi virus atau bakteri dan pertukaran air liur.

Sebagian gejala ISPA tidak berbahaya, tetapi kita tetap harus waspada dan segera memeriksakan diri ke dokter apabila didapatkan gejala deam tinggi > 38,50 C, sesak nafas, penurunan kesadaran, sulit dan sakit menelan. Karena apabila gejala memberat dikawatirkan terjadi komplikasi sekunder infeksi dari ISPA atau terjadi infeksi dari virus jenis yang berbahaya.

Diagnosa ISPA dapat ditegakkan dari wawancara dengan pasien (anamnesis), pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap dan Rontgen dada. Umumnya ISPA tidak membutuhkan obat yang spesifik, dan hanya obat simptomatik (sesuai gejala), vitamin, isitrahat yang cukup dan asupan gizi yang baik cukup untuk tatalaksana ISPA. Tetapi apabila dicurigai adanya infeksi sekunder dari bakteri, maka harus diberikan antibiotik dan terkadang diberikan juga antiinflamasi. Vaksin influenza juga dapat diberikan pada pasien-pasien yang dikawatirkan rentan tertular ISPA, digunakan sebagai pencegahan penyakit.

ISPA dapat kita cegah penularannya dengan cara menerapkan hidup sehat, rajin cuci tangan 6 langkah, hindari menyentuh daerah wajah, bila batuk atau bersn mulut ditutup, menggunakan masker. Dapat juga dibantu dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung vit C, istirahat yang cukup dan olah raga teratur.

COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh salah satu jenis virus corona. COVID-19 memiliki banyak gejala yang tidak spesifik, tetapi berbahaya. Gejala awal muncul setelah 2 hari sampai 2 minggu setelah virus masuk ke tubug. Gejala infeksi paling sering hampir mirip dengan ISPA seperti tenggorok terasa kering sampai nyeri,batuk kering, pilek, demam > 380 C, badan terasa nyeri dan lemas. Ada juga muncul keluhan hilangnya sensasi pembau dan pengecap secara tiba-tiba, mata merah (konjungtivitis), ruam merah pada kulit, diare, perubahan warna jari tangan dan kaki. Gejala awal umumnya ringan dan muncul bertahap. Pada kasus infeksi berat dapat terjadi sesak nafas berat, demam tinggi dan penurunan kesadaran. Apabila kita memiliki gejala-gejala seperti itu, diharapakan untuk segera menghubungi penyedia pelayanan kesehatan atau fasilitas kesehatan yang khusu melayani COVID-19.

Cara penularan COVID-19 hampir sama dengan penularan ISPA yaitu melalui droplet yang dikeluarkan saat batuk dan bersin, bersentuhan dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi virus atau bakteri dan pertukaran air liur. Tetapi COVID-19 dipercaya lebih mudah menular dan menyebar karena sifat virus yang agresif.

Diagnosa COVID-19 ditegakan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Untuk diagnosa pasti dengan menggunakan pemeriksaan PCR dari hasil swab nasofaring dan orofaring. Selain itu pada CT Scan dada didapatkan gambaran pneumonia kanan dan kiri. Saat ini rapid test Covid-19 tidak dapat dipakai sebagai alat penegakan diagnosa.

Sebagian besar pasien dengan COVID-19 dapat sembuh tanpa perawatan khusus. Gejala yang berat biasanya terjadi pada pasien-pasien yang mempunyai kondisi yang memperberat (Comorbid) seperti pasien lansia, hipertensi, diabetes, mempunyai gangguan jantung dan paru. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mengatasi virus ini. Pengobatan untuk COVID-19 berdasarkan gejala yang diderita. Pada gejala ringan diberikan obat simptomatik, vitamin, asupan gizi yang cukup dan isitrahat. Pada kasus yang berat diberikan beberapa kombinasi antivirus, antibiotik. Perlu dilakukan observasi yang ketat pada pasien-pasien dengan gejala berat, karena mudah sekali terjadi gagal nafas dan pasien harus menggunakan alat bantu nafas atau ventilator, gagal jantung dan gagal ginjal.

Pencegahan COVID-19 dapat kita lakukan dengan meningkatkan imunitas tubuh seperti isitirahat yang cukup, asupan gizi yang baik, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, olah raga yang cukup, berjemur dibawah matahari pagi. Perilaku hidup sehat juga dapat kita lakuakan untuk mengurangi risiko penyebaran virus, seperti menghindari kerumunan orang, menjaga jarak minimal 1 m dari orang lain, hindari menyentuh barang-barang di tempat umum, memakai masker, sering mencuci tangan dengan sabun anti septik atau cairan antiseptik berbahan dasar alkohol, tidak menyentuh bagian wajah.

ISPA berbeda dengan COVID-19, walaupun pada tahap awal infeksi akan memiliki gejala yang hampir sama, tetapi COVID-19 jauh lebih berbahaya karena angka kematiannya yang tinggi. Maka dari itu, diharapkan kita semua untuk selalu waspada dan berhati-hati terhadap risiko penularan penyakit ini, dengan selalu menerapkan protokol kesehatan dimanapun kita berada.