Bolehkah Konsumsi Obat Secara Digerus?

Kamis, 31 Maret 2022 96

by: Apt. Anita Herti Febtikawati, S.Farm

Sediaan obat terdapat dalam beberapa bentuk seperti kapsul, tablet, sirup, puyer, sampai beberapa bentuk sediaan yang spesifik seperti inhaler, suppositoria, krim, atau salep. Diantara kita ada yang dapat mengkonsumsi obat langsung ditelan dengan sekali teguk, ada yang hanya bisa menelan obat dengan bantuan pisang, atau harus digerus terlebih dahulu. Namun, tahukah bahwa tidak semua obat bisa digerus? 

Bentuk sediaan tablet dibuat dalam beberapa jenis, diantaranya adalah:

1. Tablet biasa. Tablet biasa adalah bentuk obat yang paling umum, obat ini saat masuk ke dalam pencernaan akan hancur dalam lambung/ usus dan melepaskan zat aktif untuk diserap oleh tubuh. Tablet seperti ini boleh digerus atau dibelah.

2. Tablet salut enterik. Tablet dengan jenis ini dibuat bersalut dengan maksud agar dapat diserap di usus, bukan didalam lambung. Obat yang dibuat dengan salut enterik biasanya ditujukan untuk obat yang bisa menyebabkan iritasi pada lambung atau obat dengan penyerapan yang lebih baik di dalam usus. Bentuk tablet seperti ini tidak boleh digerus atau dibelah. Jika obat digerus atau dibelah, maka tujuan pembuatan tablet dalam bentuk salut enterik tidak akan tercapai. Kemungkinan obat dapat menyebabkan iritasi pada lambung atau dapat mengurangi penyerapannya.

3. Tablet Kunyah. Tablet jenis ini memang dibuat untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Contohnya adalah obat maag atau suplemen untuk pencernaan. Tablet kunyah dapat diberikan dengan cara digerus.

4. Tablet lepas lambat. Obat jenis ini biasa disebut extended release (ER) atau sustained release (SR). Tablet ini dibuat agar pelepasan zat aktifnya terjadi secara perlahan-lahan di saluran cerna. Obat lepas lambat dibuat agar pasien lebih nyaman dalam konsumsi obat dan juga untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam konsumsi obat, karena dapat mengurangi frekuensi pasien dalam konsumsi obat. Obat jenis ini tidak bisa diberikan dengan cara digerus atau dibelah  karena tujuan tablet ini dibuat sediaan melepas secara lambat menjadi tidak tercapai. Jika obat dilepaskan terlalu cepat dari yg seharusnya, dosis terapi menjadi terlalu tinggi atau dapat menyebabkan overdosis

5. Tablet Effervescence. Tablet ini dikonsumsi dengan cara memasukkan tablet ke dalam air sehingga menjadi semacam minuman bersoda. Contohnya seperti vitamin C atau tablet minuman penyengar.

6. Tablet salu gula (sugar coated). Tujuan dilakukan penyalutan adalah untuk menutupi rasa obat yang pahit. Jika obat digerus, maka lapisan gula akan hilang dan justru obat akan terasa pahit saat ditelan.

7. Kapsul. Kapsul adalah bentuk sediaan obat dalam suatu cangkang kapsul yang biasanya terbuat dari gelatin yang berisi bahan obat. Obat/ zat aktif obat dimasukkan ke dalam kapsul umumnya adalah untuk menghindari rasa pahit obat. Jika obat dengan bentuk sediaan kapsul, isi kapsul boleh dikeluarkan dari cangkang dan diminum seperti puyer biasa. Dapat dicampur dengan air ataupun sirup pemanis. 

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang tidak dapat menelan tablet atau kapsul secara utuh. Misalnya pasien dengan selang makan (nasogastric tube), pasien geriatric, atau pasien yang sedang tidak sadarkan diri. Pada kondisi medis seperti ini biasanya akan dipilih jenis sediaan obat dengan bentuk sediaan yang sesuai. Konsumsi tablet atau kapsul sebaiknya ditelan secara utuh atau sesuai dengan bentuk sediaan tablet itu sendiri. Jika akan menggerus tablet atau membuka kapsul, pastikan dahulu kepada dokter atau apoteker bahwa hal tersebut boleh dilakukan. Menggerus tablet atau membuka kapsul obat secara sembarangan justru malah dapat membahayakan. Efek obat dapat berkurang dan kemungkinan efek samping pun dapat bertambah.