TEH, KOPI DAN DEKOLORASI GIGI

Saya akan menjelaskan sedikit tentang apa itu proses pewarnaan pada gigi. Secara umum, istilah pewarnaan pada gigi lebih dikenal dengan istilah diskolorasi gigi. Hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu oleh kita semua adalah bahwa tidak semua warna kuning pada gigi kita adalah suatu bentuk kelainan atau diskolorasi abnormal. Pertama, lapisan kedua (dari lapisan terluar) gigi kita pada dasarnya memiliki kecenderungan warna yang lebih kuning dan gelap dari pada lapisan gigi terluar kita. Derajat atau intensitas warna kuning pada lapisan kedua pada gigi kita tersebut juga bervariasi pada setiap orang. Oleh karena itu, pada kejadian pewarnaan atau diskolorasi gigi yang ekstrem mungkin dapat diidentifikasi oleh individu yang bersangkutan, akan tetapi penentuan secara pastinya apakah memang terjadi diskolorasi pada gigi, diperlukan peran serta dokter gigi dalam penegakan diagnosisnya.

Pewarnaan atau proses diskolorasi gigi itu sendiri secara umum dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu pewarnaan atau diskolorasi oleh sebab intrinsic dan ekstrinsik. Pewarnaan gigi yang disebabkan oleh faktor-faktor instrinsik biasanya terkait dengan proses tumbuh kembang dan dalam upaya pemutihannya (bleaching) lebih membutuhkan teknik yang tidak sesederhana pewarnaan ekstrinsik. Pada pewarnaan gigi yang disebabkan oleh karena faktor ekstrinsik, biasanya muncul oleh karena adanya paparan tertentu (tidak terkait dengan proses tumbuh kembang) dan umumnya upaya pemutihan giginya dapat dilakukan dengan teknik yang lebih sederhana daripada kasus pewarnaan gigi oleh sebab faktor-faktor intrinsik.

Terkait dengan the dan kopi, kalau boleh saya kaitkan dengan faktor-faktor penyebab pewarnaan pada gigi adalah termasuk dalam penyebab ekstrinsik. Sebenarnya tidak hanya terbatas pada kedua jenis minuman the dan kopi saja yang dapat memberikan efek pewarnaan pada gigi, akan tetapi sebenarnya berbagai jenis makanan dan minuman yang bersifat chromogenik (pemberi warna) dapat mempengaruhi pewarnaan pada lapisan terluar gigi kita baik melalui ikatannya dengan protein pada lapisan pellicle gigi maupun ikatan langsungnya dengan struktur email gigi. Umumnya beberapa chromogen pada makanan dan minuman dapat memberikan pewarnaan pada gigi terlepas dengan ada tidaknya pellicle dan juga plakpada email gigi kita. Intensitas pewarnaan yang terjadi pada gigi kita juga sangat tergantung dengan durasi serta intensitas paparan substansi chromogen tersebut pada gigi kita, yang juga selaras dengan derajat perubahan warna yang terjadi. Sehingga, semakin tinggi intensitas dan semakin lamanya terjadinya paparan substansi chromogen pada gigi kita (tanpa adanya pembersihan), maka akan seiring dengan semakin meningkatnya pewarnaan pada gigi yang terjadi.

Lalu, apakah itu berarti bahwa kita harus menghindari makanan dan minuman tersebut?,tentu saja tidak. Karena hakikatnya substansi-substansi tersebut merupakan faktor pewarnaan eskternal, maka kita dapat melakukan pencegahan terjadinya pewarnaan tersebut. Selama pewarnaan atau diskolorasi gigi tersebut belum terjadi, maka pembersihan mekanis dengan menyikat gigi menggunakan pasta gigi abrasive yang adekuat dapat secara efektif dilakukan. Akan tetapi apabila telah terjadi pewarnaan atau diskolorasi pada gigi, maka yang dapat dilakukan adalah perawatan pemutihan (bleaching) oleh dokter gigi. Perawatan yang dapat dilakukan dalam hal ini juga terkait dengan kondisi keparahan dan kompleksitas pewarnaan yang terjadi. Apabila pewarnaan yang terjadi sudah bersifat kronis dalam arti telah ada dalam jangka waktu yang lama dan atau juga terjadi pada lapisan gigi yang telah mengalami dekalsifikasi, maka pembersihan secara konvensional atau sederhana akan memberikan hasil yang kurang optimal. Akan tetapi pada kondisi-kondisi pewarnaan oleh faktor chromogen makanan dan minuman yang masih dalam taraf ringan, dapat diantisipasi dengan upaya pembersihan manual atau mekanis secara konvensional (upaya perawatan profilaksis rutin).

  • By drg. Arya Adiningrat, PhD
  • 30 April 2018