PENCEGAHAN ASMA

Asma adalah salah satu penyakit tertua tetapi baru dianggap sebagai masalah utama kesehatan masyarakat pada pertengahan 1970. Asma merupakan penyakit yang secara klinis mudah dikenali tetapi sulit dinyatakan dalam suatu definisi. Definisi asma berdasarkan Global Initiative for Asthma (GINA) adalah penyakit heterogen ditandai inflamasi kronik saluran napas. Hal ini didefinisikan sebagai riwayat mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk dengan intensitas dan waktu bervariasi, disertai dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi yang bervariasi. Variasi gejala dan hambatan aliran udara dipicu oleh aktivitas, alergen, paparan iritan, perubahan cuaca, dan infeksi saluran napas oleh virus.

Epidemiologi Asma
 Asma mengenai semua umur, lebih sering pada usia anak dan dewasa muda
 Prevalens asma bervariasi
 Ada kecenderunghan peningkatan prevalens asma
 Prevalens asma di Indonesia sekitar 5 %
 Asma umumnya diyakini menjadi penyakit heterogen yang diawali dan dipengaruhi kuat oleh interaksi gen-lingkungan.
 Interaksi yang penting ini dapat terjadi saat baru lahir dan bahkan di dalam rahim.Terdapat Konsensus yang menyatakan bahwa 'window of opportunity' ada selama kehamilan dan saat baru lahir dimana faktor lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya asma.
 Beberapa faktor lingkungan, baik biologis dan sosiologis, dapat menjadi penting dalam terjadinya asma.
 Data yang mendukung peran faktor resiko lingkungan untuk terjadinya asma termasuk pada: gizi, alergen (baik inhalan dan ingestan), polutan (terutama asap rokok), mikroba, dan faktor psikososial
Pencegahan pada asma bisa dengan cara
• Menyusui
Meskipun adanya banyak penelitian yang melaporkan efek menguntungkan dari menyusui pada pencegahan asma, hasilnya masih bertentangan, dan belum dapat ditekankan pada edukasi keluarga bahwa menyusui akan mencegah asma. Menyusui menurunkan episode mengi saat baru lahir; Namun, hal itu tidak dapat mencegah terjadinya asma persisten (Bukti D). Terlepas dari efeknya terhadap perkembangan asma, menyusui masih dianjurkan untuk manfaat positif lainnya (Bukti A).
• Vitamin D
Asupan vitamin D dapat melalui diet, suplemen makanan atau sinar matahari. Sebuah tinjauan sistematis kohort, kasus kontrol dan studi cross-sectional menyimpulkan bahwa asupan vitamin D ibu, dan vitamin E, berhubungan dengan resiko mengi pada anak-anak yang lebih rendah.
• Probiotik
Sebuah penelitian meta-analisis tidak memberikan bukti yang cukup untuk merekomendasikan probiotik untuk pencegahan penyakit alergi (asma, rhinitis, eksim atau alergi makanan)

Klasifikasi asma sendiri terdiri dari intermitten geala bulanannya < 1minggu tanpa gejala lain gejala malam < 2xbulan , persisten ringan gejala harian didapatkan keluhan >1xminggu dan < 1xhari , persisten sedang terdapat gejala setiapa hari dan membutuhkan reliever gejala malam >1xminggu, dan persisten berat didapatkan gejala kontinyu dengan serangan malam yang sering, keterbatasan aktivitas.

TATALAKSANA ASMA

Tujuan utama manajemen asma adalah untuk mengontrol gejala dan menurunkan risiko ekesaserbasi. Asma disebut terkontrol apabila gejala minimal dan terhindar dari eksaserbasi. Program terapi asma meliputi tujuh komponen yaitu edukasi, menilai dan monitor berat asma secara berkala, identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus, merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang, menetapkan pengobatan pada serangan akut, kontrol secara teratur, serta pola hidup sehat.

Pencegahan asma pada Anak-anak tidak boleh terpapar asap tembakau lingkungan selama kehamilan atau setelah kelahiran, Persalinan normal harus diusahakan selama memungkinkan, Menyusui, untuk alasan lain selain pencegahan alergi dan asma, Penggunaan antibiotik spektrum luas selama tahun pertama kehidupan harus diminimalkan. Kemungkinan faktor yang paling penting adalah kebutuhan untuk memberikan lingkungan yang positif dan mendukung untuk mengurangi stres, dan mengarahkan keluarga untuk membuat pilihan yang mereka merasa nyaman. .

Tatalaksana asma terdiri atas terapi medikamentosa dan non medikamentosa untuk mencapai derajat asma terkontrol. Pengobatan Asma sendiri terdapat pengobatan yang bersifat reliever ataupun controller, sehingga diperlukan control rutin pada pasien asma ke poli paru untuk menentukan terapi selanjutnya yang dapat dinilai dengan spirometri
  • By dr. Ardorisye S Fornia (Popy), Sp.P, M.Kes
  • 27 February 2018