MENGENAL VITAMIN D LEBIH JAUH

Beberapa dekade belakangan ini, defisiensi vitamin D telah menjadi pandemi. Penyebab utama kekurangan vitamin D adalah perubahaan gaya hidup manusia modern terutama berkurangnya paparan sinar matahari dalam aktivitas sehari-hari ditambah asupan makanan yang secara alami mengandung vitamin D sangat sedikit mampu memenuhi kebutuhan orang dewasa maupun anak-anak.

Defisiensi vitamin D awalnya dikenali sebagai penyebab timbulnya penyakit Ricketsia, suatu penyakit yang timbul akibat pertumbuhan tulang yang terganggu. F. Glisson pada sekitar tahun 1650 mengamati adanya penyakit gangguan pertumbuhan tulang pada anak-anak yang tinggal di daerah dengan paparan sinar matahari yang terbatas. Para dokter pada saat itu kemudian memberikan minyak ikan pada pasien yang menderita Ricketsia dan ternyata memberikan hasil yang cukup baik. Baru pada sekitar tahun 1922, diketahui kandungan dari minyak ikan yang membantu memperbaiki pertumbuhan tulang pada anak anak penderita Ricketsia adalah vitamin D.

Vitamin D berperan dalam menjaga pertumbuhan otot dan tulang yang optimal melalui perannya membantu absorbsi kalsium di saluran cerna. Kalsium memiliki peran yang penting dalam proses pembentukan tulang serta menjaga kepadatan tulang. Setiap harinya manusia kehilangana kalsium melalui kulit, keringat, kuku, urin dan feces, sementara itu tubuh sendiri tidak dapat memproduksi kalsium sehingga dibutuhkan asupan kalsium yang adekuat dari luar tubuh. Asupan kalsium yang cukup harus didukung dengan asupan vitamin D yang baik agar kalsium dapat diabsorbsi kedalam darah dan digunakan dalam proses penulangan sehari-hari.

Vitamin D dirubah di hati menjadi bentuk pro hormone vitamin D 25(OH) dan kemudian oleh ginjal dirubah menjadi bentuk aktifnya yaitu 1,25(OH)2D. Sebagai suatu hormon, vitamin D memiliki peran lain dalam meregulasi sel dan sistem imun. Penelitian akhir-akhir inii menunjukan peran vitamin D yang lebih luas dalam mencegah penyakit kanker, penyakit kardiovaskular, pemyakit infeksi dan penyakit autoimun. Sumber vitamin D terutama diperoleh dari paparan sinar matahari. UVB yang ada di sinar matahari mampu merubah 7 – dehydrocholesterol di kulit menjadi previtamin D3. Paparan sinar matahari dibawah jam sepuluh pagi adalah saat terbaik untuk mendapatkan asupan vitamin D. Selain itu, Vitamin D dalam bentuk previtamin D3 juga dapat diperoleh dari makanan antara lain ikan salmon, ikan tuna, susu, kedelai serta sereal. Sayangnya kandungan vitamin D dalam makanan tersebut kurang mampu memenuhi kebutuhan vitamin D sehari yang berkisar 400 – 800 IU. Sehingga diperlukan asupan vitamin D lain dalam bentuk suplemen.

Sebelum mendapat tambahan suplementasi vitamin D ada baiknya terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kadar vitamin D darah agar dapat ditentukan berapa dosis suplementasi vitamin D dapat diberikan setiap hari. Pemeriksaan vitamin D didarah dapat melalui pemeriksaan kadar vitamin D 25(OH) yang merupakan suatu bentuk vitamin D yang paling stabil untuk diperiksa. Vitamin D dikatakan cukup bila kadar vitamin D 25(OH) didarah sekitar 30 ng/ml IU. Kecurigaan kekurangan vitamin D dapat dilihat jika terdapat gejala gejala seperti rambut rontok, nyeri pada tulang dan otot, mudah terkena infeksi, hingga ayunan suasana yang tidak jelas. Mereka dengan gangguan pertumbuhan tulang, kanker, penyakit kardiovaskular ataupun penyakit autoimun juga disarankan untuk dilakukan pemeriksaan vitamin D secara teratur serta memenuhi kebutuhan vitamin D nya dengan baik

Mengingat peran vitamin D yang cukup luas dalam pembentukan tulang serta regulasi sel dan sistem imunitas, mulai sekarang ada baiknya kita memperhatikan kebiasaan hidup kita sehari-hari terutama mengenai paparan terhadap sinar mtahari, asupan makanan serta pemeriksaan kadar vitamin D dalam darah karena kesehatan adalah suatu hal yang harus kita upayakan dalam hidup.

  • By dr.Deshinta Putri Mulya Sp.PD - KAI
  • 03 April 2018