MENGENAL THIRD-HAND SMOKE (THS)

Kebiasaan menghisap rokok tidak diragukan lagi terbukti memiliki efek buruk bagi kesehatan. Perokok adalah orang yang langsung menghisap dari batang rokoknya, sedangkan perokok pasif adalah orang yang menghisap asap rokok lingkungan yang berasal dari perokok di sekitarnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa dampak akibat rokok hampir samaantara perokok maupun orang yang terpajan asap rokok dari lingkungan. Third-hand smoke (THS) pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006, didefinisikan sebagai polutan asap tembakau berupap artikel yang tersisa setelah rokok dimatikan.

Asap pada batang rokok terdiri dari dua bagian yaitu asap utama yang dihirup langsung oleh seorang perokok dan asap sampingan yang dihasilkan dari pembakaran batang rokok yang terdapat pada ujung bagian rokok. Asap rokok lingkungan merupakan campuran dari asap rokok sampingan (80-85%) dan asap rokok utama yang diekshalasikan oleh perokok. Third-hand smoke merupakan residu dari asap rokok lingkungan yang menempel di setiap permukaan yang terpajan asap rokok lingkungan. Gangguan kesehatan disebabkan oleh efek pembakaran tembakau dan senyawa berbahaya lainnya dalam rokok yang berbahaya bagi perokok dan lingkungan sekitarnya.

Seseorang yang merokok akan menghembuskan kontaminan yang kemudian akan menetap di berbagai permukaan (peralatan rumah tangga, pakaian, tubuh, benda dalam mobil, dan lain-lain) dan menetap selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Ventilasi ruangan yang baik maupun pembatasan area merokok tidak dapat menghilangkan residu THS yang tertinggal diseluruh permukaan dalam ruangan.

Pajanan THS dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan terutama pada bayi dan anak-anak. Dampak gangguan respirasi akibat pajanan THS pada anak dapat menetap hingga dewasa.

Kandungan senyawa organic dalam asap rokok lingkungan dapat mengalami perubahan fisikokimia yang dipengaruhi oleh ventilasi, suhu dan kelembaban dan dapat menetap sebagai debu rumah akibat pengendapan di permukaan benda dalam ruangan. Konsentrasi THS paling tinggi berada pada pakaian dan bahan katun dapat menyerap nikotin hingga 100 mg/m2.

Dampak pajanan THS terhadap kesehatan belum diteliti sepenuhnya namun ada kemungkinan timbul dampak merugikan pada kesehatan manusia dari beberapa senyawa THS antara lain peningkatan risiko kerusakan asam deoksiribonukleat (DNA), asma, gangguan perkembangan paru serta otak pada anak dan perubahan patologis lainnya.

Bayi dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap kontaminan THS dalam debu rumah dan permukaan furniture melalui perilaku fase oral dan merangkak di lantai. Anak lebih rentan karena anak masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, respon simun yang belum baik, frekuensi pernapasan pada anak lebih tinggi dari pada orang dewasa dan anak sering menghabiskan waktu dengan orang tua ataupun pengasuhnya di rumah. Pajanan THS dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan kognitif dan neurologis seperti ketidakmampuan belajar, kekurangan perhatian dan/atau penurunan pertumbuhan otot dan tulang.

Beberapa rekomendasi diberikan kepada pemilik bangunan sewa dan pengelola perumahan di Amerika Serikat, antara lain mempertimbangkan kebijakan larangan merokok di dalam maupun lingkungan bangunan dan pemeliharaan renovasi bangunan untuk mengeliminasi residu THS. Kebijakan lingkungan bebas asap rokok merupakan hal yang legal, mudah diterapkan dan mengurangi risiko serta biaya tambahan yang disebabkan oleh rokok.

  • By dr. Diana Septiyanti Sp. P
  • 07 February 2018