MENGENAL KEGANASAN KEPALA LEHER

Penyakit keganasan merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan kematian penderitanya dan membutuhkan biaya pengobatan yang mahal. Keganasan berasal dari pertumbuhan abnormal sel atau jaringan yang bersifat mendesak serta mampu bermetastasis/ menjalar ke organ lain. Salah satu jenis kanker yang menyebabkan kematian dalam jumlah besar di Indonesia adalah kanker kepala dan leher. Keganasan kepala leher merupakan keganasan ke empat terbanyak di Indonesia dibawah kanker serviks, kanker payudara.

Kunci keberhasilan penanganan keganasan, termasuk keganasan kepala leher adalah deteksi dini dan penanganan yang adekuat. Semakin awal keganasan ditemukan maka semakin kecil dampak kecacatan dan angka kesembuhan semakin tinggi. Akan tetapi data menyebutkan bahwa 50 % keganasan kepala leher terdeteksi setelah memasuki stadium yang tinggi. Hal tersebut disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining kanker sejak dini. Berdasar hal tersebut Yayasan Kucala Yogyakarta menyebarkan informasi deteksi dini keganasan kepala leher agar membantu memandu masyarakat umum untuk melakukan deteksi dini.

Keganasan kepala dan leher dapat menyerang kelenjar thyroid, sekitar rongga mulut, jaringan lunak, kelenjar liur, rahang atas, rahang bawah, pita suara, kulit dan kelenjar getah bening. Secara umum 90 % keganasan kepala leher berasal dari sel skuamosa yaitu dari mukosa permukaan saluran nafas bagian atas termasuk yang melapisi sinus paranasal. Sebagian lain adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar-kelenjar di kepala leher, dan paling sedikit dari sel mesenkim. Sebenarnya 80 % keganasan kepala leher dapat di deteksi dini karena letaknya yang berada di permukaan (berbeda dengan kanker leher rahim) sehingga mudah terlihat saat berupa lesi prekanker/ benjolan di lokasi tertentu.

Berikut adalah lesi prekanker yang bisa merupakan tanda awal yang perlu diwaspadai dan dilakukan evaluasi perkembangannya: 1. Leukoplakia, suatu bercak keputihan pada mukosa rongga mulut dengan permukaan sedikit meninggi dan nampak seperti beludru, jika diraba akan terasa lebih kasar dibanding mukosa sekitarnya. Leukoplakia ini bisa diakibatkan oleh ititasi kronis baik karena merokok, minum alcohol, gigi yang runcing atau pemakaian prothese yang tidak cocok. Hanya 10 % Leukoplakia yang berubah menjadi ganas dalam waktu 7-10 tahun, sehingga apabila dideteksi awal dapat dicegah dengan menghilangkan faktor risiko yang ada.

  1. Eritroplakia, adalah bercak kemerahan pada mukosa rongga mulut, dengan permukaan sedikit meninggi dan kasar. Eritroplakia ini dalam perkembangannya hampir 100 % berubah menjadi karsinoma sel skuamos sehingga dokter cenderung melakukan penatalaksanaan operasi dan sekaligus dilakukan pemeriksaan patologi intra operatif untuk diagnosis dan terapi sekaligus.

  2. Fibrosis Submukosa, adalah suatu penebalan di bawah mukosa sekitar rongga mulut dalam perabaan terasa ketat dan disertai penurunan sensasi / kebas. Pada kasus Fibrosis Submukosa ini perlu dilakukan biopsy eksisi bila lesi kecil dan biopsy insisi jika lesinya luas.

  3. Ulkus, bisa berupa luka yang tidak sembuh secara spontan atau setelah diberi pengobatan selama 4 minggu. Untuk membedakan sariawan biasa dengan sariawan keganasan adalh dengan meraba, pada sariawan keganasan akan teraba tepi lebih tinggi dan konsistensi keliling ulkus lebih padat. Pemeriksaan awal diagnosis keganasan dapat dilakukan pengerokan dan memeriksa patologi sel kerokan. Adanya gigi goyah tanpa disertai nyeri atau bekas cabut gigi yang tidak sembuh-sembuh juga merupakan hal yang perlu diwaspadai.
  4. Benjolan tidak nyeri, benjolan ini bisa merupakan tumor induk, metastasis kelenjar getah bening leher atau metastasis pada tulang. Jika benjolan merupakan metastasis maka menunjukkan bahwa kanker sudah pada stadiun lanjut.
  5. Tinitus, berupa gangguan atau sumbatan tuba eustachius yang biasanya satu sisi telinga, sumbatan pada hidung, merupakan tanda awal keganasan nasofaring, pada tahap lanjut disertai benjolan di leher dan pandangan double atau berbayang dua.
  6. Suara serak, bisa merupakan gejala keganasan pita suara, terjadinya perubahan suara (suara serak), sulit dan nyeri menelan, batuk, dan muncul benjolan (tumor) di pita suara dan pada stadium lebih lanjut akan mengakibatkan sesak nafas. Jika pasien mengalami suara serak dan tidak ada perbaikan setelah 2 minggu terapi obat obatan maka harus dilakukan endoskopi pita suara sehingga dapat dilihat ada tumor atau tidak.
  • By dr. Asti Widuri Sp.THT
  • 03 July 2018