MENGENAL DISENTRI DAN PENANGANANNYA

Disentri merupakan kumpulan gejala penyakit yang ditandai dengan diare berdarah, adanya lendir dalam tinja, dan nyeri saat buang air besar. Diare disentri merupakan episode diare akut yang pada tinjanya ditemukan darah yang terlihat secara kasat mata. Sekitar 10% episode diare akut pada anak kurang dari 5 tahun, disertai darah dalam tinjanya. Hal ini menyebabkan 15-25% kematian akibat diare pada kelompok umur ini. Dibandingkan dengan diare cair akut, diare akut berdarah biasanya lebih lama sembuh dan berhubungan dengan komplikasi yang lebih banyak antara lain dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan memiliki risiko kematian lebih tinggi. Diare akut berdarah pada anak yang lebih kecil biasanya merupakan pertanda masuknya bakteri invasif yang serius pada usus besar.

Penyebab disentri adalah infeksi bakteri atau amuba. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri dikenal sebagai disentri basiler dan merupakan penyebab tersering disentri pada anak. Shigella dilaporkan sebagai penyebab tersering disentri basiler pada anak. Sedangkan infeksi yang disebabkan oleh amuba dikenal sebagai disentri amuba. Selain diare berdarah, anak juga mengalami demam, nyeri perut terutama menjelang buang air besar, pada pemeriksaan tinja rutin didapatkan jumlah leukosit dan eritrosit yang meningkat, dan pada pemeriksaan biakan tinja dapat dijumpai kuman penyebab. Nyeri perut saat buang air besar (tenesmus) seringkali tidak terlihat pada anak yang usianya lebih muda karena mereka umumnya belum dapat menggambarkan keluhan tersebut.

Tanda dan gejala diare disentri meliputi BAB dengan tinja cair atau lembek, sering dan disertai darah yang dapat dilihat dengan jelas. Gejala lain berupa nyeri perut, demam, kejang dan anak tampak letargis. Untuk mengetahui penyebab diare disentri diperlukan pemeriksaan tinja untuk mengetahui penyebab diare disentri, apakah bakteri atau parasit.

Infeksi menyebar melalui tangan, makanan maupun air yang terkontaminasi, dan biasanya terjadi pada daerah dengan kebersihan perorangan yang buruk,jumlah Shigella yang diperlukan untuk menyebabkan penyakit sangat kecil.

Penanganan disentri adalah dengan memberikan antibiotika, karena sebagian besar disentri disebabkan oleh bakteri dan sebagian lagi disebabkan oleh amuba. Antibiotika harus diberikan sesegera mungkin, keterlambatan tidak jarang menyebabkan makin parahnya disentri .

Anak dengan disentri bisa mengalami dehidrasi, terlebih bila tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup. Dehidrasi terjadi karena banyaknya cairan yang keluar melalui diare. Anak dengan disentri sebaiknya diberi minum yang cukup, terutama bila mereka mengalami demam. Infus diberikan bila anak mengalami dehidrasi berat atau sulit mendapat asupan makan karena hilang nafsu makan. Selama anak masih mau minum dan makan dalam jumlah cukup, infus tidak perlu diberikan.

Memang, memberi makan cukup sulit karena hilangnya nafsu makan. Makanan yang diberikan hendaknya dalam porsi sedikit namun sering. Upayakan anak agar mau makan. Pilih makanan kaya energi dan zat gizi yang disukai anak. Berikan pula satu kali makanan tambahan setiap hari dengan menu yang sama setidaknya selama 1 minggu setelah diare berhenti. Pemberian ASI sangat dianjurkan pada bayi yang mengalami disentri.

Agar anak tidak terkena diare disentri, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan, selalu menggunakan air bersih, selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, menggunakan jamban untuk pembuangan tinja, memberikan ASI untuk bayi, menjaga kebersihan makanan pendamping ASI dan memberikan imunisasi campak.

  • By dr. Nurlaili, Sp.A
  • 19 March 2018