Kopi : Sahabat atau Musuh Bagi Jantung?

Siapa yang tidak mengenal kopi? Salah satu minuman favorit bahkan menjadi trend saat ini. Lihat saja berbagai kedai kopi mulai menjamur, coffee shop yang menjual secangkir kopi dengan harga puluhan bahkan ratusan ribu, maupun warung kopi sederhana yang menjual kopi dengan harga lebih terjangkau. Kedai kopi selalu ramai oleh pengunjung, tempat nongkrong bagi anak muda, pebisnis, maupun para sosialita. Kopi saat ini bukan lagi hanya sebuah minuman, namun telah menjadi bagian dari gaya hidup. Namun bagaimana pengaruh kopi terhadap kesehatan terutama berkaitan dengan kesehatan jantung? Apakah kopi berbahaya untuk jantung? Apakah justru memberikan manfaat terhadap kinerja jantung?
Sebagian besar orang tahu bahwa dalam kopi terdapat zat yang bernama kafein. Namun ternyata, kafein tidak hanya terdapat dalam kopi. Teh, coklat, minuman bersoda, dan minuman berenergi kemasan juga mengandung kafein. Kandungan kafein pada kopi tergantung pada jenis kopi dan cara pengolahannya, berkisar antara 80 hingga 135 mg per cangkir. Jumlah maksimal konsumsi per hari yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 400 mg per hari. Kafein sendiri merupakan zat stimulan sistem saraf pusat sehingga efek yang dapat terjadi antara lain peningkatan konsentrasi, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, peningkatan pergerakan usus dan stimulasi untuk buang air kecil. Efek meningkatnya tekanan darah setelah minum kopi ini berlangsung sementara. Selain mengandung kafein, kopi pun dipercaya mengandung zat antioksidan yang dapat menangkal berbagai radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh.
Hubungan antara konsumsi kopi dan penyakit jantung pertama kali diteliti sekitar tahun 1960-an. Saat itu dikatakan bahwa kopi memiliki efek buruk terhadap kesehatan karena efek cepat konsumsi kafein adalah gangguan irama jantung, peningkatan aktivitas plasma renin, konsentrasi katekolamin, dan tekanan darah. Mulai awal tahun 2000, banyak penelitian mengenai pengaruh kopi terhadap penyakit jantung dipublikasikan. Beberapa penelitian dan meta-analisis terbaru menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi kopi dengan risiko penyakit jantung dan stroke. Bahkan hasil suatu meta-analisis menunjukkan konsumsi kopi dengan jumlah sedang (3 sampai 5 cangkir sehari) berhubungan dengan penurunan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, sedangkan konsumsi kopi dalam jumlah banyak (lebih dari 5 cangkir sehari) tidak memiliki hubungan bermakna dengan kejadian sakit jantung. Konsumsi kopi berhubungan dengan peningkatan sensitivitas insulin, risiko diabetes yang lebih rendah, dan kadar zat peradangan yang lebih rendah dalam tubuh. Perbedaan hasil penelitian terdahulu dengan yang dilakukan akhir-akhir ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara pengolahan kopi yang makin berkembang. Saat ini metode filter lebih populer, sedangkan metode pengolahan kopi dengan cara rebus (unfiltered) yang dulu lebih sering digunakan ternyata dapat meningkatkan kadar kolesterol, dimana kolesterol yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko sakit jantung. Penelitian terdahulu sering tidak memperhatikan faktor perancu seperti pola konsumsi maupun kebiasaan merokok pada subyek penelitian, sehingga hasil penelitian menjadi bias.
Jadi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi dengan skala sedang (hingga maksimal kadar kafein 400 mg per hari) tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung pada individu yang sehat. Saat minum kopi, kadang dapat ditambahkan gula, susu, maupun creamer sesuai dengan selera. Namun penambahan zat-zat tersebut harus dilakukan dengan bijaksana, karena peningkatan gula dan kalori sendiri meningkatkan risiko kejadian penyakit jantung.

Ditulis oleh dr. Ima Ansari Kusuma, Sp.JP, FIHA (dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di RS JIH, Yogyakarta)

  • By dr. Ima Ansari Kusuma, Sp.JP, FIHA
  • 21 February 2017