MENGENAL PENYAKIT DEGENERATIF DAN BAHAYANYA

Aspek fisik pada usia lanjut ditandai dengan munculnya proses degeneratif atau penurunan fungsi atau perubahan struktur dari keseluruhan organ. Apabila proses degeneratif ini semakin berat, bukan tidak mungkin masa tua akan diisi dengan berbagai aktifitas pengobatan, keluhan, atau penyakit yang muncul, seperti kencing manis, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, auto immune, infeksi ataupun dilipidemia. Kini tren penyakit degeneratif tidak berpatok pada usia tua, karena gejala degeneratif pada anak muda juga sudah muncul seiring dengan perubahan gaya hidup.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Lebih dari 3/4 kematian akibat penyakit kardiovaskuler terjadi di negara berkembang yang berpenghasilan rendah sampai sedang.Dari seluruh kematian akibat penyakit kardiovaskuler 7,4 juta (42,3%) di antaranya disebabkan oleh Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan 6,7 juta (38,3%) disebabkan oleh stroke.

Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan tingginya prevalensi penyakit tidak menular di Indonesia, seperti hipertensi (31,7 %), penyakit jantung (7,2%), stroke (8,3‰), diabetes melitus (1,1%).

Penampilan penyakit pada usia lanjut sering tidak jelas, kronik, banyak bersifat endogen, tersembunyi, multiple, progresif, tidak memberikan kekebalan, bahkan justru lebih rentan terhadap penyakit, serta dapat mengakibatkan cacat lama sebelum terjadinya kematian. Munculnya berbagai penyakit itu akan mempengaruhi semua aspek kehidupan dan berakhir dengan penurunan kulitas hidup. Menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang Kesehatan tahun 2016, menghabiskan biaya hampir 14,6 Triliun Rupiah. Sedangkan tahun 2015, menghabiskan biaya hampir 14,3 Triliun Rupiah.Paling besar biaya adalah untuk penyakit jantung, dimana terjadi peningkatan pembiayaan dibanding tahun 2015, yakni sebesar 6,9 Triliun Rupiah (48,25%) menjadi 7,4 Triliun Rupiah (50,7%) pada 2016.

Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) menjadi salah satu masalah kesehatan utama di negara maju maupun berkembang. Upaya yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah diantaranya dengan mesosialisasikan perilaku CERDIK.

Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin beraktifitas fisik, Diet yang sehat dan seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola stres.

Kencing manis atau DM dapat dicegah agar tidak timbul dengan mewaspadai faktor yang mempengaruhinya, seperti keturunan, kegemukan, hingga nutrisi yang berlebih. Selain itu, dapat dilakukan pengobatan sebaik-baiknya, dicegah agar tidak terjadi komplikasi walaupun sudah sakit. Jika sudah terjadi komplikasi, dicegah agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut. Misalnya dengan periksa mata tiap 6-12 bulan, foto dada setiap 1-2 tahun, EKG tiap 1 tahun, cek urin rutin dan periksa kaki secara berkala.

Data Depkes (2005) mencatat bahwa masalah gizi lebih pada usia dewasa di Indonesia tergambar dari indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 25 sebanyak 21,0 persen (gemuk), IMT lebih dari 27 sebanyak 11,1 persen (obesitas), dan IMT lebih dari 30 sebanyak 3,9 persen.

Peningkatan pola konsumsi makanan cepat saji (fast food) yang tinggi kolesterol, lemak jenuh, garam, namun rendah serat, dan minuman soft drink yang tinggi gula serta gaya hidup yang rendah aktivitas fisik pada masyarakat perkotaan meningkatkan prevalensi terjadinya gangguan penyakit-panyakit tersebut.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi beberapa keluhan dari problem degeneratif, yakni melalui upaya sederhana mandiri dan upaya medis. Upaya sederhana mandiri adalah melalui nutrisi sehat kaya antioksidan, olahraga, tidak stress, dan tidak merokok. Sementara itu, upaya medis dapat dilakukan melalui pemberian insulin dan terapi sulih hormon.

  • By dr. Yessi Primanda Sari
  • 16 July 2018