DAMPAK ERUPSI GUNUNG MERAPI BAGI KESEHATAN PARU

Berbagai foto dan video bersliweran di dunia maya yang membuat kenangan mengenai erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010 kembali muncul. Benar, Jumat, tanggal 11 Mei 2018 masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya kembali dikejutkan dengan terjadinya erupsi freatik yang terjadi pada pukul 07.43 WIB. Dampak yang dirasakan dengan cepat oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya adalah hujan abu vulkanik. Semua orang kembali sibuk mencari masker sebagai pelindung diri. Sebenarnya bagaimana efek debu vulkanik tersebut bagi kesehatan, terutama kesehatan paru?

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa dampak letusan gunung berapi dapat membahayakan kesehatan, walau pun beberapa ahli menganggap bahwa abu gunung berapi tidaklah lebih berbahaya dari asap rokok. Zat berbahaya yang muncul pasca erupsi dibagi menjadi 2 bagian yaitu debu itu sendiri dan komponen lain yang muncul pada saat erupsi. Abu vulkanik yang tersebar akibat erupsi gunung berapi tersebut pada dasarnya memiliki sifat iritan dan korosif yang apabila terhirup dapat memberikan dampak di saluran napas atas dan saluran napas bawah. Debu partikel yang berukuran <10 mikron ketika terhirup dapat menimbulkan masalah pada pernapasan.

Dampak buruk yang mungkin akan dialami seseorang akibat pajanan abu vulkanik dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu kondisi cuaca, jumlah debu yang dihirup dan konsentrasi partikel. Cuaca yang panas dan kering saat ini memang tidak terlalu menguntungkan bagi masyarakat karena membuat debu menjadi lebih lama beterbangan di udara. Jumlah debu yang terhirup dan besarnya konsentrasinya dipengaruhi oleh besarnya erupsi dan jarak lokasi dengan puncak gunung berapi. Faktor angin juga mempengaruhi cepat atau tidaknya debu tersebut menyebar sehingga mengurangi konsentrasinya.

Komponen lain yang terdapat dalam abu vulkanik antara lain mineral, silika, kristobalit atau tridimit. Mineral ini adalah kristal silika bebas yang diketahui dapat menyebabkan penyakit silikosis. Sedangkan gas yang timbul akibat gunung meletus adalah uap air (H2O), diikuti oleh karbon dioksida (CO2) dan belerang dioksida (SO2). Selain itu ada juga gas-gas lain dalam jumlah kecil seperti hidrogen sulfida (H2S). hidrogen (H2), karbon monoksida (CO), hidrogen klorida (HCl), hidrogen fluorida (HF) dan helium (He).

Langkah yang dilakukan dalam menyikapi keadaan ini dapat mencegah atau mengurangi dampak akibat pajanan abu vulkanik tersebut. Golongan tertentu misalnya bayi, anak-anak, ibu hamil dan orang usia lanjut serta orang dengan riwayat penyakit pernapasan sebelumnya seperti asma, bronkitis dan PPOK merupakan golongan yang lebih rentan terhadap pajanan debu vulkanik.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia cabang Yogyakarta telah mengeluarkan beberapa rekomendasi terkait hujan abu vulkanik pasca erupsi, antara lain: 1. Gunakanlah pakaian pelindung dan juga masker debu, alat perlindungan ini sebaiknya mudah diakses oleh masyarakat khususnya selama kondisi terjadi. 2. Masyarakat dapat menggunakan kain sebagai pengganti masker apabila tidak mendapatkan masker untuk membantu melindungi diri dari debu atau gas. 3. Seseorang yang memiliki bronkhitis, emfisema dan asma disarankan untuk tetap tinggal di rumah atau pindah sementara ke daerah lain untuk menghindari pajanandebu. 4. Semua orang, termasuk anak-anak dihimbau tidak keluar rumah dan jika ingin keluar rumah, sebaiknya gunakan masker, pakaian pelindung dan juga kacamata untuk menghindari iritasi. 5. Usahakan untuk meminimalkan paparan debu yang berada di dalam rumah. 6. Masker khusus anak harus dipakaikan pada anak terutama apabila bermain di luar rumah. 7. Masyakarat yang mengalami keluhan pernapasan seperti batuk, sesak napas dan keluhan lain agar dapat segera mencari pertolongan medis.

  • By dr. Diana Septiyanti Sp. P
  • 14 May 2018