BATUK PILEK PADA ANAK

Anak usia 2 tahun dan berat badan 14 kg, dengan gejala batuk , pilek dan demam. Ya anak ibu sedang menderita ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut yaitu infeksi yang mengenai bagian dari saluran pernapasan yang berlangsung akut atau hingga 14 hari. Menurut letaknya terdapat ISPA atas atau ISPA bawah. ISPA atas adalah infeksi saluran pernapasan di atas laring yang terdiri dari rinitis, faringitis, tonsilitis, rinosinusitis dan otitis media.

Sedang ISPA bawah adalah infeksi saluran pernapasan di bawah laring terdiri atas epiglotitis, bronkitis, bronkiolitis dan pneumonia. Sebagian besar ISPA pada anak biasanya adalah ISPA atas, dan hanya sekitar 5% yang melibatkan saluran pernapasan bagian bawah. Angka kesakitan ISPA pada anak masih tinggi, di Indonesia menempati urutan pertama dalam jumlah pasien rawat jalan. Kasus ISPA merupakan 50% dari seluruh penyakit pada anak berusia di bawah 5 tahun, dan 30% pada anak berusia 5-12 tahun. Anak berusia 1 – 6 tahun dapat mengalami episode ISPA sebanyak 7-9 kali per tahun.

Terdapat banyak faktor yang mendasari perjalanan penyakit ISPA pada anak, yang berhubungan dengan pejamu, agen penyakit dan lingkungan.

• Usia . ISPA dapat ditemukan pada 50% anak berusia di bawah 5 tahun, dan 30% anak berusia 5-12 tahun, mengapa anak dibawah usia 5 tahun lebih banyak terkena ISPA karena kondisi anak balita (bawah lima tahun) mempunyai kekebalan tubuh yang belum belum sekuat anak di atas 5 tahun.

• Status gizi. Status gizi anak merupakan faktor penting timbulnya ISPA. Anak dengan status gizi kurang atau buruk merupakan faktor risiko terjadi ISPA pada anak. Vitamin A sangat berhubungan dengan beratnya infeksi, anak dengan defisiensi vitamin A dapat mengalami ISPA dua kali lebih banyak daripada anak yang tidak mengalami defisiensi vitamin A. Oleh karena itu, perbaikan gizi dan pemberian vitamin terutama vitamin A harus dilakukan untuk mencegah terjadinya ISPA.

• ASI atau Air Susu Ibu. Terdapat banyak penelitian yang menunjukkan hubungan antara pemberian ASI dengan terjadinya ISPA. ASI mempunyai nilai proteksi terjadap pneumonia, bayi yang tidak pernah diberi ASI lebih rentan mengalami ISPA dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI .

• Imunisasi. Penyakit campak, pertusis dan beberapa penyakit lain dapat meningkatkan risiko terkena ISPA dan memperberat ISPA itu sendiri, tetapi penyakit tersebut dapat dicegah dengan pemberian imunisasi .

• Lingkungan. Polusi udara baik dari dalam dalam maupun dari luar rumah berhubungan dengan beberapa penyakit termasuk ISPA. Hal ini berkaitan dengan konsentrasi polutan lingkungan yang dapat mengiritasi mukosa saluran pernapasan. Anak dengan orangtua perokok juga menyebabkan sang anak menjadi rentan terhadap ISPA bawah. Bencana alam, seperti tsunami atau yang sedang banyak terjadi di sekitar kita dapat menyebabkan peningkatan kasus dan kematian akibat ISPA,, khususnya pneumonia.

• Penyakit lain. Human immunodeficiency virus / AIDS serta penyakit lain merupakan faktor risiko terjadinya ISPA. Di beberapa negara , HIV mulai menjadi masalah karena pnumonia terjadi lebih sering dan lebih berat pada pasien HIV.

Untuk pengobatan ISPA, sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus, oleh karena itu sebagian besar ISPA tidak tidak memerlukan antibiotik dalam tatalaksananya. Jika suatu ISPA kita curigai penyebabnya adalah bakteri, maka antibiotik harus diberikan secara cepat dan tepat utuk mempercepat penyembuhan, memperkecil penyebaran ke anak lain, mencegah kelainan lanjut di saluran pernapasan terutama paru-paru.

Berdasar dari uraian di atas maka apabila penyakit ISPA putra ibu sudah menyebabkan gangguan pada anak maka sebaiknya ibu berkonsultasi ke dokter anak langsung. Untuk dapat diketahui penyebabnya. Semoga informasi saya dapat bermanfaat buat ibu dan keluarga , terimakasih (dr. Sari Kusumastuti, Sp.A)
  • By dr. Sari Kusumastuti, Sp. A
  • 29 December 2017