Atasi Kecanduan Internet dan Gangguan Konsentrasi Anak dengan Akupunktur

Akupunktur yang sering dikenal dengan istilah ‘terapi tusuk jarum’ berasal dari negara Cina ribuan tahun lalu dengan melalui penelitian ilmiah yang pesat terutama di Amerika dan Eropa sejak tahun 1970-an telah mengalami perkembangan pemanfaatan sesuai dengan kaidah Ilmu Kedokteran yang berlaku, karenanya dinamakan Akupunktur Medik. Di Indonesia pun akupunktur medik ini mulai banyak diminati masyarakat dengan alasan: tindakannya sederhana, efek samping ringan, terbebas dari efek samping yang mungkin timbul jika kita mengkonsumsi obat, dapat mengatasi berbagai permasalahan kesehatan serta dapat diaplikasikan pada berbagai usia termasuk anak-anak.Peran akupunktur medikpada anak diantaranya yaitu untuk kecanduan penggunaan internet dan gangguan konsentrasi. Kita memahami bahwa saat ini merupakan era pemakaian internet yang luas dan aksesnya pun mudah didapat. Lewat berbagai perangkat seperti telepon seluler, komputer, ‘tablet’ kita dapat merambah dan berselancar di dunia maya ini tak terbatas ruang dan waktu. Hal ini selain banyak manfaatnya namun juga dapat berdampak buruk pada kemungkinan timbulnya kecanduan, tak terkecuali dapat terjadi pada anak-anak. Anak jadi lupa waktu, enggan belajar dan melakukan kewajiban lainnya, serta dapat mengganggu konsentrasi.Riset pada penderita gangguan kecanduan internet membuktikan bahwa psikoterapi dikombinasikan dengan elektroakupunktur dapat mengurangi kegelisahan dan memperbaiki status kesehatan lebih baik dibandingkan dengan psikoterapi saja. Riset lainyang mendukung yaitu pada anak usia pra-sekolah yang didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) = gangguan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas, maka kelompok yang mendapat terapi tingkah laku dikombinasikan dengan elektroakupunktur hasilnya lebih efektif dan mengalami penurunan gejala ADHD lebih baik dibandingkan kelompok terapi tingkah laku dikombinasikan dengan akupunktur sham/palsu.Prinsipkerja akupunktur pada gangguan ini adalah merangsang titik-titik akupunktur di permukaan kulit kepala, daun telinga dan area tubuh lainyang menyebabkan perubahan aktivitas persarafan dan neurotransmitter (semacam hormon) di otak.Amankah akupunktur untuk anak? Bukankah terlihat menyakitkan menusukkan jarum pada kulit permukaan tubuh mungilnya? Dan masih banyak pertanyaan lain yang akan timbul terutama dari para orang tua. Akupunktur aman dilakukan pada anak asalkan dilakukan oleh tenagaprofesional terlatih, dalam hal ini dokter spesialis akupunktur medik. Jarum yang digunakan ukurannya sangat halus dan kecil (dapat kita analogikan: diameternya sekitar seperempat diameter jarum jahit pakaian, yaitu 0,25 mm hingga 0,30 mm, dan panjang jarum mulai dari 1,5 cm hingga 4,0 cm dengan kedalaman penusukan di permukaan kulit 0,5 cm hingga 2,0 cm; tergantung lokasi titik akupunktur di tubuh). Jarum steril dan sekali pakai langsung buang.Keuntungan akupunktur medik jika dibandingkan dengan terapi konvensional misalnya dengan obat-obatan yaitu bahwa obat yang diberikan baik jumlah dan jenisnya terbatas pada anak mengingat anak-anak masih berada pada periode pertumbuhan dan perkembangan kehidupannya, fungsi alat tubuh belum sepenuhnya sempurna, termasuk fungsi metabolisme obat. Teknis akupunktur untuk anak: digunakan4 hingga 8 jarum, frekuensi terapi 2 kali per minggu selama 6 minggu. Jika penusukan dengan jarum tidak memungkinkan misalnya anak tidak kooperatif, anak takut dan khawatir maka metode perangsangan titik dilakukan dengan menggunakan aliran panas dari moksa yang asal katanya dari bahasa Jepang yaitu “mokusa’ (herbal berbentuk stik dan dipanaskan ujungnya). Tindakan ini dinamakan moksibusi.Adakah efek samping akupunktur? Setiap tindakan pengobatan pasti memiliki risiko dan efek samping, demikian halnya dengan akupunktur. Namun efek samping yang mungkin terjadi minimal dan tidak berbahaya, seperti: sedikit kebiruan di sekitar lokasi penjaruman (angka kejadiannya tidak melewati 10 persen) dan dalam satu-dua hari kebiruan akan hilang, nyeri ringan saat jarum ditusukkan (hanya terjadi beberapa detik dan akan segera reda).

  • By dr. Harizah Umri, Sp.Ak
  • 19 September 2018