AIR DI PARU? KOK BISA?

Ibu Dahlia menjenguk tetangganya, Ibu Melati di Rumah Sakit. Ibu Melati menceritakan bahwa kemarin beliau mengalami sesak napas hebat dan dilarikan ke IGD. Pemeriksaan rontgen dada di lakukan dan gambarannya menunjukkan bahwa parunya ‘terendam’ cairan. Pagi ini, Ibu Melati menjalani prosedur tindakan pengambilan cairan sebanyak 1000mL. Kok bisa ya ada cairan di situ? Apa ya penyebabnya?

Penggunaan istilah paru terendam cairan atau ada cairan di paru sebenarnya merupakan istilah yang salah kaprah namun sangat lazim dijumpaidi masyarakat. Paru memiliki 2 selaput yaitu selaput sebelah dalam dan luar. Cairan yang dialirkan keluar sebenarnya tidak terletak di paru namun berada di antara kedua selaput tersebut. Bahasa ilmiah untuk terdapatnya cairan di antara selaput paru bagian dalam dan luar disebut sebagai efusi pleura. Mudahnya, apabila kita mengingat buah salak, maka daging buah salak kita umpamakan sebagai paru dan selaput tipisnya kita ibaratkan sebagai selaput paru.

Keberadaan cairan dalam ruang diantara selaput paru tersebut akan menekan paru sehingga tidak dapat mengembang dan berfungsi sebagai pengambil oksigen pernapasan dan mengakibatkan berbagai keluhan misalnya sesak, baik saat aktivitas mau pun istirahat, lemas, dada terasa berat dan nyeri dada.

Berbagai hal dapat menjadi penyebab munculnya cairan dalam ruang antar selaput paru tersebut. Mengetahui penyebab cairan tersebut merupakan hal yang wajib dan lebih penting daripada sekedar mengeluarkan cairan itu saja. Mengapa? Karena dengan mengetahui penyebabnya, maka pemberian pengobatan yang tepat dapat diberikan dan penanganan terhadap penyebab membuat cairan tersebut tidak muncul kembali. Langkah utama penanganan efusi pleura adalah mengeluarkan cairan dalam ruang antar selaput paru sehingga mengurangi desakan ke paru dan paru dapat mengembang kembali. Di samping itu, kita dapat melakukan identifikasi penyebab cairan tersebut dengan berbagai pemeriksaan. Pengambilan cairan tersebut tidak perlu melalui suatu operasi, cukup dengan menggunakan jarum yang digunakan untuk infus dan dialirkan ke botol penampung. Pengambilan cairan tersebut disebut sebagai punksi pleura. Banyaknya cairan yang dikeluarkan tiap kasus berbeda beda tergantung kondisi pasien. Salah satu pemeriksaan penting adalah pemeriksaan sitologi artinya cairan tersebut akan dilihat selnya di bawah mikroskop oleh dokter patologi anatomi sehingga dapat memberikan gambaran penyebab cairan tersebut.

Secara garis besar, penyebab efusi pleura dibagi menjadi 2, yaitu penyebab sistemik (di luar paru dan selaput paru) dan penyakit di paru atau selaput paru itu sendiri.Penyakit ginjal dan jantung merupakan penyebab tersering terdapatnya cairan di ruang antar selaput paru. Maka tidak mengherankan apabila efusi pleura seringkali dengan mudah ditemukan pada pasien gagal ginjal dan gagal jantung. Ketidakmampuan ginjal mengeluarkan cairan dalam tubuh dan kurangnya kemampuan jantung memompa darah agar beredar dengansemestinya membuat penumpukan cairan di rongga-rongga tubuh, termasuk di ruang antar selaput paru. Tata laksana efusi pleura akibat penyakit sistemik seperti ini adalah memperbaiki kinerja organ penyebab. Pengambilan cairan dapat dilakukan apabila cairan terlalu banyak dan mengganggu pengembangan paru. Apabila cairan efusi hanya sedikit atau minimal, maka cukup dengan memberikan tata laksana sesuai penyakit dasarnya tanpa tindakan pengambilan cairan.

Berbeda dengan penyebab pertama, penyebab kedua melibatkan proses di paru ataupun selaput paru itu sendiri. Berbagai kelainan tersebut antara lain infeksi Tuberkulosis (TBC), infeksi selain TBC, kanker
paru, penyebaran kanker dari organ lain dan lain-lain. Mengingat penyebab yang beragam, maka identifikasi terhadap cairan adalah hal terpenting. Hasil sitologi cairan pleura tersebut dapat mengarahkan klinisi kepada penyebabnya sehingga klinisi dapat memberikan pengobatan definitif terhadap penyebab tersebut. Misalnya pada kasus efusi pleura akibat infeksi TBC, maka pemberian obat TBC selama minimal 6 bulan dapat memberikan hasil pengobatan yang optimal sehingga cairan tidak muncul kembali.

  • By dr. Diana Septiyanti Sp. P
  • 05 March 2019