VAKSIN AMAN DAN HALAL

Selasa, 13 Agustus 2019 297

Vaksinasi-proses memasukkan vaksin ke tubuh manusia dengan tujuan untuk mendapatkan efek kekebalan terhadap penyakit tertentu-merupakan bagian dari Imunisasi.Vaksin dapat berupa komponen bakteri atau virus yang telah dilemahkan untuk merangsang tubuh memproduksi kekebalan tubuh atau antibodi terhadap penyakit tersebut. Sehingga bila suatu saat si kecil terpapar oleh penyakit tersebut, maka tubuh dapat melawannya dengan baik.

Pada proses pembuatannya beberapa vaksin menggunakan enzim yang berasal dari hewan. Ayah dan Bunda dirumah tidak perlu ragu akan keamanan vaksin yang tersedia dan beredar di Indonesia saat ini karena telah melalui tahapan uji klinik dan mendapat ijin edar dari BPOM.

 

FATWA MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendukung vaksinasi sebagai upaya pencegahan penyakit dan telah mengeluarkan beberapa Fatwa MUI* yang menetapkan bahwa penggunaan vaksin pada saat ini dibolehkan, sepanjang belum ada jenis vaksin lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.

(*Fatwa MUI tentang Vaksin Polio Khusus, Fatwa MUI no 16 tahun Tahun 2005  tentang  Penggunaan Vaksin Polio Oral (OPV), Fatwa MUI Nomor 30 Tahun 2013 tentang Obat)

Hal tersebut diperkuat dengan penyataan Anggota Komisi Fatwa MUI, Dr.K.H.M. Hamdan Rasyid, M.A. yang menyatakan dukungan MUI terhadap vaksinasi “Sungguhpun demikian, vaksin yang digunakan harus yang halal. Tidak mengandung najis, dan tidak ada unsur babi, dan unsur-unsur lain yang dilarang dalam Islam. Kalau dalam kondisi darurat tidak atau belum ada yang halal, maka diperbolehkan sementara mempergunakan vaksin yang ada najisnya. Tetapi kebolehan itu hanya berlaku dalam keadaan darurat, dan harus ada upaya mencari vaksin yang halal. Kalau pernah bersinggungan dengan enzim babi berarti haram. Tapi kalau memang belum ditemukan vaksin lain untuk penyakit itu, maka ini berarti kondisi darurat dan mengancam nyawa, sehingga untuk sementara hukumnya halal”

Semua pernyataan tersebut sesuai dengan Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2] : 173 “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang”

 

Pendapat IDAI

Sertifikat halal memang baik namun tak ada sertifikat halal bukan otomatis berarti haram. Kita bisa meneliti apakah pada produk akhir vaksin ada zat yang haram. Jika tak ada maka vaksin tersebut hukumnya adalah halal. Di sisi lain hukum obat dan vaksin berbeda dengan hukum makanan dan minuman. Pada makanan dan minuman tersedia banyak sekali alternatif yang bisa dipilih sehingga kita bisa memastikan pilihan kita hanya pada makanan dan minuman yang halal saja. Namun pada obat-obatan esensial dan vaksinasi yang amat penting bagi kesehatan masyarakat dapat berlaku hukum darurat. Khususnya jika obat dan vaksin tersebut termasuk zat haram namun tak ada alternatif lain sebagai penggantinya saat itu. Hal ini disebabkan suatu kaidah bahwa darurat itu membolehkan yang dilarang. Dengan demikian andai saja sebagian muslim masih menganggap bahwa vaksin itu haram maka berdasarkan hukum darurat ini vaksin tersebut tetap harus diberikan untuk mencegah berjangkitnya wabah penyakit ganas dan berbahaya di masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa cakupan imunisasi yang menurun menjadi sekitar 60% saja sudah bisa menimbulkan kembali wabah penyakit yang sebelumnya sudah menghilang di tengah masyarakat.

 

Anjuran

Masyarakat sebaiknya lebih waspada terhadap berbagai isu yang muncul, jangan mudah mempercayai hal-hal yang tidak jelas dan tidak ilmiah. Hal ini perlu dilakukan dalam pemenuhan hak hak anak.

Imunisasi lengkap dapat melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian. Orang tua diharapkan melengkapi imunisasi anak mereka agar seluruh anak Indonesia terbebas dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah lewat imunisasi. Imunisasi melindungi anak-anak dari beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan, bahkan kematian. Lebih lanjut, imunisasi tidak membutuhkan biaya besar, bahkan di Posyandu anak-anak mendapatkan imunisasi secara gratis.

Ada lima (5) jenis imunisasi yang diberikan secara gratis di Posyandu, yang terdiri dari imunisasi Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HIB, serta campak. Semua jenis vaksin ini harus diberikan secara lengkap sebelum anak berusia 1 tahun diikuti dengan imunisasi lanjutan pada Batita dan Anak Usia Sekolah.