KENALI PENYAKIT AUTOIMUN

Rabu, 11 September 2019 30

Pernahkan anda mendengar penyakit Lupus, Multiple Sklerosis ataupun Skleroderma ?  Mungkin sebagian dari kita  bahkan ada yang terdiagnosis atau kerabatnya menderita penyakit  tersebut.  Penyakit diatas adalah  beberapa jenis penyakit yang digolongkan sebagai penyakit autoimun. Bagi sebagian masyarakat awam yang mendengar diagnosis penyakit autoimun, maka sering terbayang keadaan yang menakutkan dan membuat depresi apalagi bila ditambah penelusuran di Google dengan gambar – gambarnya yang menyeramkan.  Sebelum panik sebaiknya kita mengenal lebih jauh apa yang dimaksud dengan penyakit autoimun, bagaimana mengenali gejala penyakit autoimun dan  upaya yang dilakukan apabila menderita penyakit autoimun.

Penyakit autoimun terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang mengalami kebingungan tidak dapat membedakan sel diri sendiri (self antigen ) dengan sel asing yang kemudian bekerja berlebihan melawan sel diri sendiri. Dalam keadaan normal sistem kekebalan tubuh berkerja melindungi tubuh  dengan melawan kuman, virus atau hal apa saja yang dapat berbahaya pada tubuh. Dalam upaya melindungi tubuh,  maka akan muncul reaksi peradangan  seperti demam ataupun nyeri, yang mana ketika sistem kekebalan tubuh kita selesai menjalankan tugasnya maka reaksi peradanganpun akan berkurang. Agar mampu melaksanakan tugasnya dengan  baik maka  sistem kekebalan tubuh yang baik harus dapat membedakan mana sel- sel  kuman ataupun virus dan mana sel – sel yang berasal dari diri sendiri. Jika tubuh tidak dapat membedakan kedua hal tersebut maka sistem kekebalan tubuh akan menganggap sel- sel tubuh sebagai “lawan” yang harus diserang (kudeta terhadap diri sendiri)  sehingga munculah manifestasi klinis yang muncul sebagai penyakit autoimun.

                Bagaimana sistem kekebalan tubuh bisa salah mengenali mana sel lawan mana sel kawan ? salah satu hal yang mempengaruhi adalah faktor genetik. Sehingga tidak heran jika  kita menjumpai  kecenderungan  timbulnya penyakit autoimun pada satu keluarga. Namun kecenderungan suatu penyakit autoimun akan diturunkan atau tidak tergantung dari jenis penyakit autoimun  yang diderita  ( ada lebih dari 100 macam diagnosis penyakit autoimun) yang mana  beberapa dari penyakit autoimun ada yang bersifat sporadik yang muncul pada seseorang tanpa riwayat keluarga yang jelas.  Karena penyakit autoimun tidak sepenuhnya diturunkan maka ada beberapa hal yang dapat memicu timbulnya penyakit autoimun pada individu yang rentan  antara lain infeksi bakteri, virus, toxin, obat obatan dan pengaruh lingkungan lain misalnya radikal bebas pada sinar matahari.

                Penyakit autoimun secara garis besar dibedakan menjadi dua yaitu penyakit autoimun yang bersifat lokal ( hanya bermanifestasi pada satu organ spesifik) atau penyakit autoimun yang bersifat sistemik ( mempengaruhi beberapa organ yang terlibat). Derajat keparahannyapun bervariasi dari yang ringan hingga berat. Pada beberapa individu dapat  terjadi overlapping antara penyakit autoimun yang bersifat sistemik maupun lokal.

                Pada penyakit autoimun manifestasi klinis yang dikenali adalah akibat proses peradangan yang sedang terjadi. Penderita autoimun mungkin akan mengeluhkan keluhan yang berbeda beda seperti demam yang terjadi berkepanjangan, nyeri sendi berkepanjangan, rasa kelelahan, rambut rontok,kulit yang berubah, dan lain –lain. Karena  pada penyakit lain selain autoimun tanda – tanda radang juga sering ditemukan, menjadikan penyakit autoimun bisa saja didiagnosis sebagai penyakit lain. Akibatnya banyak para penderita autoimun berpindah – pindah dokter sebelum ditemukan penyakit sesungguhnya dan hal ini juga yang membuat penyakit autoimun mendapat julukan sebagai penyakit dengan seribu wajah. Karena itu beberapa pemeriksaan seksama perlu dilakukan untuk memastikan seseorang menderita penyakit autoimun atau tidak. Pemilihan pemeriksaan laboratorium yang tepat serta dapat dipertanggung jawabkan menjadi penting sebelum mendiagnosis seseorang menderita penyakit autoimun. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang paling dikenal untuk menduga seseorang menderita penyakit autouimun atau tidak adalah pemeriksaan Anti Nuclear Antibodi (ANA).

                Terapi pada penyakit autoimun utamanya adalah memperbaiki akibat dari proses autoimun  yang terjadi. Seperti misalnya  memperbaiki defisiensi hormon akibat proses autoimun yang terjadi pada organ spesifik yang menghasilkan hormon tertentu.  Yang kedua adalah menekan reaksi radang berlebihan  akibat proses autoimun yang terjadi. Serta yang terakhir mengatur keseimbangan antara  penekanan sistem imunitas yang berkerja berlebihan dengan tetap mempertahankan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Ketiga hal tersebut perlu diawasi dan dikontrol secara hati – hati oleh tenaga profesional medis yang kompeten pada bidangnya.

                Karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya penyakit autoimun  ataupun progesivitas penyakit autoimun maka kerjasama multidisiplin antara  dokter, perawat, ahli gizi, psikolog, laboratorim maupun farmasi sangat diperlukan. Rumah Sakit JIH saat ini menyediakan tenaga ahli yang lengkap serta pemeriksaan laboratorium penunjang yang diperlukan dalam penegakan penyakit autoimun maupun tatalaksana selanjutnya.  Bagi anda yang memerlukan konsultasi  dapat dating ke RS JIH……..