AMANKAH PENGGUNAAN VAPE?

Selasa, 12 November 2019 317

Mr. X            : Dok, saya mau tanya boleh ya…

dr. Diana      : Tentu boleh, silakan

Mr. X            : Kalo vape sama rokok itu lebih aman mana si?

dr. Diana      : Sama-sama gak aman… Karena dua-duanya mengandung zat yang membahayakan…

Mr. X             : Tapikan vape itu salah satu jembatan untuk berhenti merokok dok…

dr. Diana       : Nah ini yang harus diluruskan…. Berikut penjelasannya.

 

Rokok elekrik atau vape adalah suatu alat dengan baterai sebagai daya untuk memanaskan suatu cairan dan menghantarkan suatu produk aerosol kepada penggunanya. Badan kesehatan dunia mengeluarkan pernyataan pada tahun 2019 ini bahwa peredaran vape di seluruh dunia mengalami peningkatan, dan sebagaimana provinsi lain di Indonesia, Yogyakarta juga mengalami fenomena baru menjamurnya penggunaan vape.Pengguna vape merambah berbagai umur bahkan menurut survei yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2018 menunjukkan anak usia sekolah dasar juga merupakan kelompok yang menggunakan vape secara aktif. Hal ini sejalan dengan mudahnya mendapatkan toko yang menyediakan kebutuhan vape di sekitar kita dan sampai saat ini belum ada peraturan yang mengatur peredarannya selain cukai sebesar 57% yang seakan memberikan legalitas beredarnya produk yang keamanannya belum jelas ini. Anak dan remaja merupakan sasaran empuk penggunaan vape karena terbuai dengan berbagai wangi buah dan permen pada saat menggunakan vape, sehingga mereka tidak menyadari bahaya dan efek kecanduan menghirup vape.

Anggapan bahwa vape aman karena tidak mengeluarkan asap dan tidak beracun sehingga membuat sebagian perokok konvensional tertarik beralih ke vape sebagai alternative pengganti rokok. Referensi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya masih belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Semoga tulisan ini dapat memberikan andil dalam meluruskan pemahaman mengenai rokok elektrik.

Vape mengandung berbagai zat sama bahayanya dengan rokok konvensional. Beberapa zat berbahaya tersebut antara lain:

1.      Bahan karsinogenik.

Bahan karsinogenik bermakna zat tersebut dapat memicu munculnya kanker. Kanker yang dimaksud tidak hanya kanker paru, namun juga kanker mulut dan tenggorok. Bahan karsinogen yang terdapat di vape antara lain propylene glycol, gliserol, formaldehid, nitrosamine.

2.      Nikotin

Nikotin adalah zat yang bertanggungjawab terhadap sifat addiksi atau ketagihan terhadap rokok konvensional mau pun vape. Sifat nagih ini yang membuat seseorang sulit lepas dari vape danmenimbulkan gejala penolakan apabila dihentikan mendadak.

3.      Radikal bebas

Efek buruk vape terkait infeksi diparu diakibatkan terdapatnya 7x1011 zat radikal bebas pada setiap hirupan vape yang dapat mengakibatkan peningkatan sifatoksidatif dan mengubah sistem kekebalan sel. Hal ini sama halnya kerusakan akibat rokok konvensional. Nikotin yang sering kali kita dengar ada di rokok konvensional juga ditemui di vape. Nikotin ini bertanggungjawab terhadap perubahan gen yang dapat menyebabkan peningkatan bakteri penyebab Tuberkulosis (TBC) di paru sehingga risiko sakit TBC juga meningkat 2 kali lipat pada pengguna vape dibandingkan bukan perokok.

4.      Beberapa zat toksik lain seperti logam berat, silikat, berbagai nano partikel dan particulate matter dengan ukuran yang sangat kecil dan dapat berpeluang menimbulkan iritasi, peradangan, menurunkan sistem kekebalan local pernapasan, peningkatan sensitivitas saluran napas, asma, gejala pernapasan dan bronkitis. Gangguan pencernaan, sistem kekebalan dan gangguan pembekuan darah merupakan efek lain yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan vape.

 

Beberapa pengguna vape menjadikan alasan vape sebagai jembatan untuk usaha berhenti merokok. Apakah hal itu benar? Sayangnya hal tersebut adalah tidak benar. Badan Kesehatan Dunia dalam konfrensi WHO Framework Convention OnTobacco Control tahun 2014 menyatakan dengan tegas bahwa tidak terdapat cukup bukti bahwa penggunaan vape dapat membantu seseorang berhenti merokok. Sebuah penelitian di Polandia menunjukkan bahwa 30% remaja berusia 15-19 tahun yang menggunakan vape pada tahun 2013-2014 sebanyak 72.4% diantaranya adalah pengguna rokok dan vape secara bersamaan. Penelitian oleh Uhamka tahun 2018 di Jakarta menunjukkan bahwa diantara 11.8% siswa SMA pengguna vape, sebanyak 51% diantaranya adalah dual users.

Isu penting lain terkait penggunaan vape adalah vape dapat menjadi pintu masuk baru beragam jenis narkoba. Penelitian yang dilakukan oleh Blundell tahun 2018 menyatakan 39.5% dari 861 responden menggunakan vape sebagai media menghisap narkoba, baik narkoba konvensional (ganja, kokaindan heroin) atau pun narkoba jenis baru (ganja sintetis atau katinonasintetis).

Kejadian sakit paru karena penggunaan vape sudah dilaporkan sebelumnya namun tidak dalam jumlah yang cukup besar. Pada bulan Juli 2019, Departemen Pelayanan Kesehatan Wisconsin dan Departemen Kesehatan Masyarakat Illinois, Amerika Serikat menerima laporan penyakit paru terkait vaping dan mengadakan investigasi kesehatan terhadap semua kasusnya. Terdapat 53 kasus dengan riwayat penggunaan vape 90 hari sebelum muncul gejala dan didapatkan kerusakan paru yang luas. Kerusakan tersebut tidak terkait dengan penyebab lain setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan. Rerata usia pada kasus tersebut adalah 19 tahun dan 94% diantaranya harus dirawat inap, 32% diantaranya harus menjalani intubasi dan menggunakan ventilator, 1 kasus dilaporkan meninggal. Semua kasus memiliki gambaran kerusakan paru yang sama yaitu kerusakan luas di kedua paru. Saat ini para klinisi dan ilmuwan di seluruh dunia mengumpulkan berbagai kasus dan data mengenai vape sehingga diharapkan masyarakat dapat menerima informasi yang valid dan dapat dipercaya.