Akupunktur Medik Mengatasi Efek Samping Pengobatan Kanker Payudara (KPD)

Selasa, 05 November 2019 105

Kanker menjadi salah satu masalah kesehatan dunia yang menyebabkan kematian cukup tinggi. Dari data tahun 2013 DI Yogyakarta memiliki prevalensi tertinggi untuk penyakit kanker. Pada perempuan kejadian kanker payudara (KPD) adalah yang tertinggi, diikuti kanker serviks (mulut rahim). Delapan puluh persen penderita ditemukan pada stadium lanjut, menyebabkan sulit dan kompleknya upaya pengobatan. Pengobatan kanker payudara selain mempunyai efek terapi yang diharapkan, juga terdapat efek samping yang tak dikehendaki. Upaya pengelolaan penderita kanker payudara setelah mendapat pengobatan diharapkan akan memberi manfaat optimal terhadap penanganan penderita secara menyeluruh. Di Indonesia sistem follow up terjadwal bertujuan bukan hanya untuk mendeteksi kekambuhan, namun untuk memperbaiki kualitas hidup dan memberi dukungan psikologis penderita kanker.

Kementrian Kesehatan RI telah menetapkan Akupunktur Medik berperan di dalam Panduan Penyelenggaraan Pelayanan Kanker di Fasyankes. Untuk pengelolaan penderita kanker payudara (KPD) setelah pengobatan maka akupunktur medik berperan mengatasi:

·      Pembengkakan lengan sisi yang sakit (limfedema)

Sekitar 13 hingga 42 persen penderita KPD yang mendapat pengobatan pembedahan dan radioterapi akan mengalami limfedema yaitu pembengkakan lengan akibat gangguan/sumbatan aliran kelenjar getah bening. Dalam suatu telaah sistematis oleh Chien dkk tahun 2019 disimpulkan bahwa akupunktur terbukti aman dan dapat meringankan limfedema yang berhubungan dengan KPD. Akupunktur dapat mengatur aktivitas sitokin, sistem saraf dan hormon serta meningkatkan sirkulasi pembuluh darah sehingga meringankan limfedema.

·      Gangguan saraf perasa/peraba (neuropati perifer)

Diperkirakan 20 hingga 100 persen penderita KPD yang mendapat pengobatan kemoterapi akan mengalami neuropati perifer yaitu kekacauan struktur dan fungsi saraf motorik, sensorik dan otonom. Hal ini berdampak pada kualitas hidup termasuk terganggunya aktivitas sehari-hari. Belum ada panduan resmi pencegahan terjadinya keluhan ini. Sementara itu dari berbagai penelitian diketahui akupunktur medik dapat secara bermakna meredakan neuropati perifer terkait kemoterapi penderita KPD sekaligus memperbaiki kualitas hidupnya.

·      Hot flushes

Hot flushes (HFs) yaitu rasa seperti adanya semburan panas di wajah, dada, lengan atas, tiba-tiba dan sementara, yg dialami penderita KPD setelah pengobatan dengan hormon. Dari data diketahui HFs terjadi pada  sekitar 50 hingga 80 persen penderita KPD, dan keluhan ini cukup mengganggu, bahkan menyebabkan penderita putus asa. Akupunktur medik terbukti dapat meringankan gejala HFs dengan cara mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh lewat pengeluaran beta endorfin.

·      Kelemahan umum (Fatigue)

Fatigue merupakan gejala yang sangat umum terjadi pada penderita kanker termasuk KPD, setidaknya 40 persen penderita yang telah dinyatakan sembuh bertahun-tahun pun mengalami keluhan ini, keadaan ini sulit diatasi dan berdampak pada kualitas hidup. Akupunktur medik diketahui dapat meringankan gejala fatigue pada penderita KPD berupa perbaikan kelelahan umum ataupun fisik dan mental, perbaikan pada aktivitas, motivasi, masalah psikososial sehingga memperbaiki kualitas hidup. Adapun mekanisme kerja akupunktur diduga mempengaruhi berbagai sitokin dan peptida pada tubuh yang berperan pada timbulnya fatigue.

·      Nyeri pada tulang dan persendian

Pengobatan hormonal untuk KPD sering menimbulkan efek samping berupa nyeri/kaku otot dan persendian sekitar 5 hingga 35 persen. Hal ini dapat menyebabkan kualitas hidup penderita KPD menjadi menurun. Akupunktur medik dapat meringankan nyeri dan kaku otot/persendian tersebut karena mempunyai efek anti-nyeri, anti-peradangan dan pelemas otot. Akupunktur medik tidak mengganggu efek terapi hormonnya.

 

Upaya pencegahan terjadinya KPD tentu menjadi prioritas utama, yang dapat dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat. Selanjutnya pelaksanaan deteksi dini adanya KPD dapat membantu upaya pengobatan lebih mudah dan efektif. Bagi mereka yang telah ditegakkan diagnosis menderita KPD hendaknya langsung mengikuti upaya pengobatan sesuai standar yang telah ditetapkan, tanpa perlu khawatir terhadap efek samping yang mungkin terjadi. Upaya pengelolaan efek samping ini dapat diatasi dengan Akupunktur Medik.